Archive for July, 2005

love doesn’t need a reason

Friday, July 29th, 2005

IT’S REALLY A NICE STORY. 
SO, NEVER ASK  YOUR  MATE  WHY  THEY LOVE U

LADY:  Why do you like me…..? Why do you love me?
MAN :  I can’t tell the reason… but I really like you….!!!
LADY:  You can’t even tell me the reason…. how can you say

            you like me?
MAN:   I really don’t know the reason, but I can prove that I love you.
LADY:  Proof??? No!!! I want you to tell me the reason. My friend’s    

            boyfriend can tell  her why he loves her… but not you!!!
MAN:  Ok….ok..!! Eemm…because …you are beautiful, because your 

           voice is sweet, because you are caring, because you are loving,

           because you are thoughtful, because of your smile, because  of

           your every movements…

Unfortunately, a few days later, the Lady met with an accident and became comma…
The Guy then placed a letter by her side, and here is the content:

DEAREST,
BECAUSE OF YOUR SWEET VOICE THAT I LOVE YOU……
NOW CAN YOU TALK?? NO!!  THEREFORE I CANNOT LOVE YOU.
BECAUSE OF YOUR CARE AND CONCERN THAT I LIKE YOU NOW THAT YOU CANNOT SHOW THEM, THEREFORE I CANNOT LOVE YOU
BECAUSE OF YOUR SMILE,

BECAUSE OF YOUR EVERY MOVEMENTS THAT I LOVE YOU
NOW CAN YOU SMILE? NOW CAN YOU MOVE?

NO, THEREFORE I CANNOT LOVE YOU…
IF LOVE NEEDS A REASON, LIKE NOW, THERE IS NO REASON FOR ME TO LOVE YOU ANY MORE.
DO LOVE NEED A REASON?  NO!
THEREFORE., I STILL LOVE YOU………

AND LOVE DOESN’T NEED A REASON

Satu Mulut dan Dua Telinga

Friday, July 29th, 2005

Publikasi: 22/07/2005 09:32 WIB

eramuslim - Momo. Demikian ia memanggil dirinya, dan demikian juga kemudian orang-orang pun memanggilnya. Seorang bocah kecil sebatang kara yang tak diketahui dari mana asalnya. Sesosok makhluk lusuh mungil yang tinggal di balik tembok sebuah bangunan yang nyaris runtuh. Dia tak banyak bicara. Pun ia tak mengganggu para warga. Ia hanya ada di sana, sendirian saja. Kadang kala pergi ke perkampungan penduduk desa untuk mendapatkan makanan yang ia tukar dengan tenaga. Kondisinya membuat para penduduk desa iba. Maka warga penghuni kampung itu berbondong-bondong mengunjunginya. Mereka menawarkan kehidupan yang lebih layak dan wajar kepada Momo kecil. Hidup bersama warga di perkampungan, diasuh bergilir dari satu rumah warga ke rumah lainnya, mendapat makanan, tempat tinggal dan pakaian yang layak. Tapi si Momo malah ternganga heran. Dia bertanya, apakah semua itu harus? Warga menjawab, tidak. Apakah tempat yang dia tinggali terlarang? Penduduk menjawab, tidak. Apakah dia boleh tetap tinggal di tempat yang ditinggalinya sekarang saja? Warga menjawab boleh. Maka si Momo pun tetap tinggal di situ, tempat bersahaja yang menjadi rumahnya. Tempat dia merasa merdeka dan gembira dengan keadaan dirinya. Warga akhirnya memutuskan membenahi sedikit tempat itu agar lebih layak dihuni, aman dan nyaman. Mereka menutup tembok dan menyisakan pintu. Mereka membuat dipan kayu untuk tempat tidur Momo dan memberikan beberapa peralatan untuk membantunya menampung air dan membuat api. Kemudian penduduk desa bergantian mengunjunginya. Mula-mula anak-anak kecil di antara mereka yang datang mengantarkan makanan kepada Momo sambil bermain di sekitar bangunan rusak itu. Lama kelamaan, bermain di rumah Momo menjadi sebuah pilihan. Bangunan rusak tempat tinggal Momo berubah menjadi tempat yang paling menyenangkan, mendamaikan, dan menenteramkan.

Ketika ada yang mendapat masalah, dia datang ke tempat Momo dan pulang dengan wajah berseri. Waktu ada yang bersedih, mereka datang menemui Momo dan kembali dengan raut cerah kembali. Saat ada suami istri yang bertengkar dan saling marah, mereka mendatangi Momo dan keluar dari sana dengan bergandengan tangan kembali. Ketika ada yang merasa sakit pada jasadnya, mereka akan mengunjungi Momo, dan kemudian meninggalkannya dengan perasaan dan kondisi fisik yang jauh lebih baik. Dan dari situlah sebuah perubahan berasal. Dari hanya kunjungan-kunjungan pendek itu, lama-lama berkembang sebuah ungkapan yang menjadi andalan setiap warga: Jika engkau memiliki masalah, datanglah kepada Momo,Jika engkau dirundung kemalangan, pergilah menemui Momo, Kalau engkau merasakan kepedihan,. Semua Momo. Seakan Momo adalah solusi.

Apakah Momo seorang anak indigo? Bukan! Bocah istimewa yang dikaruniai kekuatan indera keenam yang sering dianggap mampu menuntasi banyak hal? Bukan! Sama sekali bukan! Ataukah Momo mendapatkan wangsit dan kekuatan supranatural? Itu pun juga tidak benar. Jadi hal apakah yang membuat begitu banyak penyakit tersembuhkan? Sekian banyak permasalahan terselesaikan? Puluhan pilu kepedihan tertiriskan? Serta ratusan panas kemarahan terdamaikan? Para penduduk juga tidak tahu. Tidak mengerti. Yang mereka tahu adalah, ketika mereka sedih dan bercerita pada Momo, Momo mendengarkan mereka dengan sepenuh hati. Ekspresi sungguh-sungguh pada wajah. Tatap mata yang sangat mendala menghunjam namun penuh pengertian. Sikap tubuh yang terasa amat peduli pada apa pun yang mereka ceritakan. Dia duduk diam mendengarkan. Berjam-jam. Pada semua orang. Tanpa kesah. Tanpa lelah. Tak ada interupsi. Tak ada usulan itu ini. Apalagi nasehat. Bahkan ketika yang curhat padanya adalah dua orang sekaligus yang tengah saling bertengkar. Momo tidak menyalahkan satu sama lain. Kedua belah pihak mendapatkan perhatian yang sama. Momo hanya akan duduk di tengah-tengah, mendengarkan dengan setia, tanpa melakukan pembelaan pada si A atau si B. Hanya duduk diam penuh kesungguhan sepenuh jiwa dengan semua indera terpasang.

Meski mungkin kadang Momo tidak mengerti tetang permasalahan yang banyak dibawa orang dewasa itu, karena dia hanya seorang anak kecil yang bahkan tak sekolah. Namun semua itu telah mampu membuat dada-dada mereka lega. Dan tiba-tiba saja mereka serasa mendapat pemecahan atas permasalahan yang demikian berat melilit tubuh dan perasaan. Mereka serasa mendapati beban yang tadinya demikian menyesakkan menimpa perasaan terangkat. Hingga mereka selalu dapat meninggalkan rumah Momo dengan hati lebih ringan dan suasana lebih riang.

Dan itu, terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Barangkali Momo hanya berpikir bahwa ia mesti berterima kasih atas semua perhatian dan pemberian dari para penduduk desa. Jika kemudian warga hanya menginginkan ia duduk mendengarkan cerita mereka sebagai balasannya, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan apa yang mereka pinta sebagai bentuk rasa terima kasihnya.

Momo tidak pernah menyadari, bahwa semua itu begitu berarti bagi para warga. Baik warga ataupun Momo sendiri tak ada yang menyadari ketika kehidupan warga kampung kemudian menjadi jauh lebih maju, lebih hangat, lebih berkembang, lebih indah, lebih ramah dan lebih menyenangkan karenanya. Selalu ada saat seseorang memerlukan tempat untuk menumpahkan segala rasa galau, pedih, marah, benci dan jengkel. Selalu ada ketika seseorang memerlukan untuk mengungkapkan permasalahannya.

Dan untuk itu, dia butuh seseorang yang lain hanya untuk mendengarkannya saja. Bukan memberitahunya apa yang perlu, mesti atau harus ia lakukan. Bukan menawarinya solusi. Dan semua itu, pada gilirannya akan mampu membantu melepaskan semua energi negatif yang diderita si pencerita. Dan semua itu, pada gilirannya akan membantu menjadi pembuka pintu penyelesaian masalah yang dihadapi sang pencerita.

Pada gilirannya, semua itu akan menjadi pemicu terbukanya katup hati dan otak pikir sang pemilik masalah. Bahkan, bukan tidak mungkin, semua itu dapat pula menginspirasi jutaan hikmah bagi sang pendengar.

Dan untuk semua itu, Allah telah menyediakan sarananya. Ia memfasilitasi kita dengan -tidak cukup satu- dua telinga. Dan mencukupkan kita dengan satu mulut saja. Adakah kita menyadarinya?

PeMbELajARaN diRi

Wednesday, July 20th, 2005
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai..

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun
kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya….

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik…

Saya belajar,bahwa orang yang berniat negatip pada saya,  justru adalah
orang yang memotivasi pikiran saya agar selalu berpikiran positip terhadap
sesama

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh, Beberapa diantaranya melahirkan
cinta sejati….

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya, tapi
saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan..

Saya belajar bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang
dari sudut pandang yang berbeda…

Saya belajar,  bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki tapi yang penting
adalah siapa saya ini sebenarnya…

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini,
butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati…

Saya belajar bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasi diri saya…

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan
berarti saya harus benci dan berlaku bengis….

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan
dengan orang yang saya cintai…

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil
segera dari kehidupan saya…

Selamat belajar……. !!!

Renungan Jumat……..

Thursday, July 14th, 2005

Rahasia Kecil Kebahagiaan

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri
orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.

Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain.
Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas
selalu segar dan jernih.

Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh" Karena terlalu banyak bercuap- cuap.

Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.

Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas,
yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu
bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.

Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan
kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".

Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan- bangunan
beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan
hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain,
dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah.
Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga
daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara- perkara yang
tidak prinsipiil.

Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang dikatakannya

Jika Hari Ini Saya Mati…

Wednesday, July 13th, 2005

"Kalau bukan hari ini, mungkin besok. Tapi datangnya sudah pasti… benarkah hari ini?" saya terus bertanya-tanya selepas subuh tadi, dan terus bertanya ketika di perjalanan hingga tiba di kantor. Tapi jika memang betul waktunya tiba hari ini, jika saat yang tak pernah benar-benar dinanti oleh siapa pun itu menjumpai saya hari ini, sungguh celakalah saya.

Semalam saya tak terjaga untuk menangis sejadinya atas semua kekhilafan dan memohonkan ampun kepada-Nya. Padahal saya sungguh sadar Dia selalu menunggu kapan pun saya mau menganaksembahkan semua sesal sepanjang hidup. Saya terlalu sering lupa berlutut serendah-rendahnya di hadapan-Nya, padahal saya sadar Dia senantiasa menghulurkan tangan-Nya untuk hamba yang nista ini.

Kemarin saya masih berselisih lidah dengan teman sekantor dan belum sempat meminta maaf, sebelumnya saya sempat berpandangan tak ramah dengan tetangga, juga belum sempat memperbaikinya.

Saya juga belum sempat menelepon seorang kerabat yang kemarin seharian menunggu kehadiran keluarga saya. Mungkin ia telah menyiapkan penganan kecil yang tak boleh disentuh anak-anaknya sebelum kami datang. Saya dan keluarga tak datang tanpa kabar, sementara kering sudah air mata anak-anak kerabat saya berharap kue yang tak tersentuh hingga pagi.

Semalam saya terlalu ego dengan rasa lelah saya, bekerja keras seharian di kantor membuat badan terasa berat hingga tiba di rumah langsung merebahkan diri. Tak lagi saya pedulikan wajah-wajah kecil yang sejak sore menunggu kepulangan saya berharap laki-laki besar ini menemani mereka bermain atau melihat bintang. Saya tetap terlelap lelah meski tangan-tangan kecil mereka menarik-narik lengan saya agar bangun. Padahal pinta mereka cuma satu; dongeng pengantar tidur seperti malam-malam sebelumnya.

Saya juga masih merasa bersalah semalam melewatkan komunikasi dengan isteri. Bisa jadi sejak siang ia menunggu saat malam untuk bisa mencurahkan semua beban dan membaginya kepada saya. Tapi saat yang dinanti tiba, saya justru terlelap dan sudah pasti ia tak ingin mengganggu saya. Pagi harinya, hanya kata maaf untuk semalam. Namun saya belum memastikan keikhlasannya.

Duhai Allah, saya tak ingin meninggalkan beban untuk isteri dan anak-anak berupa dering telepon dari orang-orang yang menagih pinjaman sepeninggal saya. Sungguh, malam ini saya masih ingin melihat senyum-senyum kecil bidadari di rumah saat saya berdongeng putri bergaun merah muda dengan kereta kencana. Terlihat bening matanya menerawang seolah merekalah sang puteri nan cantik itu. Setidaknya, saya tak ingin meninggalkan isteri saya dengan segunung gundah yang belum tertumpahkan sejak kemarin malam, mungkinkah bisa saya tuntaskan malam ini?

Duhai Sesembahanku, tak perlu saya ragukan bahwa Engkau teramat tahu begitu banyak hal dan persoalan yang kan kuadukan malam ini. Engkau pun pasti bisa melihat seberapa banyak air mata yang siap tumpah di penghujung malam di atas hamparan sajadah. Dapat juga Kau duga betapa ingin saya curahkan selangit syukur atas semua nikmat-Mu, atas semua kedip mata yang tak sanggup terhitung, atas setiap tarikan dan hembusan nafas yang tak mungkin terbilang. Jika hari ini saya mati, setidaknya Engkau tahu betapa ingin saya melakukan itu semua. Semoga belum terlambat.