Archive for August, 2005

Wisuda Kepentingan Diri

Tuesday, August 30th, 2005

eramuslim - Tiga puluh tahun lalu, lulus sekolah, yang namanya wisuda, hanya berlaku bagi perguruan tinggi, lulusan setingkat sarjana. Keluaran SD, SMP, SMU cukup puas dengan Selamatan Jenang Abang, home-made. Ibu buat sendiri kue-kue di rumah, jika anak-anaknya naik kelas atau lulus sekolah, sebagai wujud syukur ke hadirat Allah Ta’ala, atas segala prestasi yang telah diraih anak-anaknya. Kue-kue ini dibagikan ke tetangga sebelah dan sanak-saudara.

Saya sendiri tidak pernah merasakan ‘nikmatnya’ mengenakan toga, kecuali setelah mengenyam perguruan tinggi. Tapi, di mana sih sebenarnya kenikmatan hakiki mengenakan toga dan pakaian kebesaran wisuda?

Sejujurnya, saya tidak mengerti. Makanya, ketika keponakan saya wisuda beberapa waktu yang lalu, sementara dia sibuk sekali bangun pagi dan kemas-kemas dengan aneka macam persiapan wisuda, saya cenderung kurang peduli. Saya tidak bisa menutupi diri sendiri, bahwa wisuda semacam ini tidak nampak hikmahnya, kecuali ‘sia-sia’.

Sia-sia. Karena sebelum wisuda, orangtua repot sekali mencari duit Rp 700 ribu untuk membayar keperluan wisuda. Itu besarnya ongkos wisuda untuk perguruan tinggi kelas kabupaten. Kalau saya rinci, bisa meliputi bayaran orang penting yang mewisuda, panitia, konsumsi wisudawan dan undangan, sewa gedung, meja-kursi, dokumentasi dan administrasi. Belum terhitung transportasi!

Banyak sekali? Memang! Namanya juga wisuda. Apalagi untuk tingkatan perguruan tinggi terkenal. Makin bergengsi nama perguruan tingginya, semakin mahal biaya wisudanya. Padahal, sesudah wisuda, apa yang mereka butuhkan, kerja kan?

Bulan-bulan ini banyak sekolah dan perguruan tinggi yang sibuk dengan aneka ragam wisuda. Keponakan saya terlihat senangnya bukan main! “Om, potret ya?” ungkapnya, minta difoto. Tukang rias pun harus datang pagi-pagi hanya untuk urusan sanggul dan jarit. ‘Sudah begitu aturan dari fakultas’, katanya. Belum lagi mencocokkan model dan warna sepatu dengan pakaian yang dikenakan.

Pokoknya: wah!

Sesudah itu, jemputan mobil sewaan datang. Berangkat ramai-ramai! Bapak, ibu, adik, calon suami kalau perlu, dan wisudawati itu sendiri. Semua ikut. Jumlah lulusan 300, yang hadir 3000 orang. Hari itu, benar-benar istimewa.

Di tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK), tidak kalah serunya! Jalan desa macet hanya karena anak-anak TK mau wisuda. Orangtua disibukkan dengan acara wisuda yang biar kecil-kecilan, urusannya makin ruwet. Mulai dari sepatu, pakaian, makanan kecil, hingga pampers.

Bagi yang kaya, agar lengkap dokumentasi wisudanya, menyewa studio untuk bikin ‘film’ dan di-VCD-kan. Yang nggak mampu, tukang foto amatiran sudah lebih dari cukup. Kalau perlu di-‘klik’ sebelum berangkat.

Akan dikemanakan anak-anak ini sebenarnya?

Acara wisuda, pemberian gelar: ahli madya, sarjana, pasca sarjana, SPd, ST, Dr , DR, Prof, dan lain-lain, sebenarnya untuk apa? Kalau hanya ingin memberikan penghargaan kepada seseorang sesudah dianggap mampu menguasai ilmu tertentu dan pada waktu tertentu, toh Imam Syafi’i misalnya, yang hafal al-Qur’an pada umur 9 tahun, tanpa gelar apa-apa, tanpa penghargaan apa-apa, namanya juga bisa besar.

Imam Bukhari yang ‘membabat’ 9000 hadits di luar kepala, juga memiliki nama gemilang dan harum, tanpa embel-embel doktor atau profesor. Padahal ilmu cendekiawan muslim itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang banyak. Kajian ilmu mereka bukan hanya sebatas demi kepentingan duniawi. Ilmu mereka menembus kebutuhan manusia hingga hidup sesudah mati. Subhanallah!

Pak Arif dan Pak Zais di kampung kami puluhan tahun sudah menjadi tukang cukur rambut tanpa sekolah. Tapi mereka ahli di bidangnya. Dihargai oleh masyarakat. Berpenghasilan pula. Sementara, yang lulusan sarjana saja sekarang ini banyak yang nganggur.

Atau, Mbak Sri yang hanya berprofesi sebagai tukang pijet. Hampir setiap sore dia dipanggil oleh orang-orang yang butuh sentuhan tangannya untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Padahal, sekolah menengah pertama saja dia tidak lengkap.

Jadi, apa artinya pendidikan panjang, bertahun-tahun, formal, penuh teori, dan ditutup dengan pemberian toga, kalau kenyataanya produknya sebagian besar justru ‘kalah’ dengan seorang tukang cukur semacam Pak Arif, atau tukang pijat kayak Mbak Sri?

Pada zaman modern ini, kita telah dicetak untuk membentuk manusia yang menomor-satukan kebutuhan pribadi. Sejak kecil kita sudah mulai terbiasa dididik untuk mementingkan diri sendiri, alias egois. Mementingkan diri sendiri ini dikedepankan oleh sekolah-sekolah kita. Sehingga lulus sekolah seakan-akan identik dengan prestasi, gengsi dan kepentingan diri.

Anak-anak yang lulus sekolah tidak dibiasakan berkonsep, bahwa sekolah sebenarnya hanyalah bagian dari proses belajar yang tidak ada akhirnya. Sekolah-sekolah umumnya mengumbar jutaan janji, bahwa dengan sekolah, mereka bisa ini, itu; memiliki kompetensi ini dan itu, serta segudang sebutan profesi lainnya.

Padahal, di luar gedung sekolah sana, tenaga terampil tak terhitung jumlahnya. Tukang kayu, tukang batu, tukang gergaji, tukang gali, dan sebagainya. Mereka hanya kita sebut: ‘tukang’. Padahal, mereka adalah pasukan yang berdiri di garis terdepan dalam pembangunan rumah dan gedung-gedung, proyek perkantoran, hingga dam-dam pembangkit listrik. Merekalah mestinya yang menyandang insinyur sejati.

Mas Gatot, tetangga sebelah kami, hanya lulusan SD. Setiap hari, orang antri meminta tenaganya, memperbaiki kerusakan listrik dari rumah-ke rumah. Rekan saya, lulusan Elektro ITB, malah jadi budayawan. Biar keren kedengarannya kan?

Tanpa sekolah formalpun, tukang-tukang ini ternyata bisa juga hidup. Dalam arti, mereka bisa jadi ‘manusia’, tumbuh, bekerja, dan berkembang, tanpa harus duduk di bangku sekolah. Itu bukan berarti, bahwa pendidikan di sekolah formal tidak penting. Karena di sekolah yang formallah terdapat laboratorium, perpustakaan dan tenaga-tenaga ahli yang bersertifikat.

Namun demikian, orang-orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal ini, bisa juga langsung praktek ke ‘laboratorium terbuka’. Mereka juga bisa mengunjungi ‘perpustakaan hidup’, serta ‘Kuliah Kerja Nyata’ tanpa batas. Mereka tidak butuh sekolah tinggi maupun universitas yang biaya wisudanya bikin bulu kuduk berdiri, untuk mencetak agar mereka jadi manusia yang berguna.

Wisuda dengan segala macam acara ‘ritual’nya, hanyalah satu contoh, betapa kita ini secara sistematik sudah dicetak sebagai manusia-manusia yang belajar mementingkan diri sendiri.

Apakah tidak dikatakan mementingkan diri sendiri, bilamana sesudah wisuda dan menyandang gelar tertentu, lantas kita berani ‘mematok’ harga, berapa seharusnya kita dibayar? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, kita hanya mau bekerja kalau sesuai selera? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, tidak mau kerja, karena terlalu berat tantangannya?

Lihatlah orang-orang desa yang serba bisa! Mencangkul di sawa, memanjat pohon kelapa, merawat tanaman di ladang, mengolah kayu untuk jadi bahan bangunan, mencari batu kerikil di sungai, membakar batu bata, menganyam bambu, hingga membangun rumah. Mereka memiliki segudang ilmu dan ketrampilan tanpa gantungan selembar sertifikat pun di ruang tamu mereka.

Mementingkan diri sendiri, egois, atau selfish, berarti meletakkan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan orang lain. Di dalam Islam, mementingkan diri sendiri itu bertentangan dengan ajarannya. Hal itu terlihat dari sholat saja misalnya, kita dianjurkan berjamaah. Dengan berjamaah, terkandung nilai-nilai kebersamaan umat. Ringan sama dizinjing, berat sama dipikul.

Sesudah sholat, kalau mau, orang-orang bisa menyelesaikan banyak persolan hidup di dalam masjid. Sedangkan jika sholat sendiri-sendiri, siapa yang bakal membantu kita menyelesaikan masalah, dengan tinggal di rumah yang tertutup?

Susahnya, sudah tahu begitu, kita masih alergi kalau dikatakan egois!

Ketika mengerjakan sholat, kita ucapkan ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar). Itu berarti, kita ini kecil sekali dihadapan Allah. Hanya Allah Ta’ala Yang Besar, yang lainnya gurem. Jika sudah merasa kecil-kecil, hingga tidak berarti sama sekali, mestinya kita sadar, bahwa kita ini tidak pantas mementingkan diri sendiri. Dihadapan-Nya, kita bukan apa-apa!

Rasulullah SAW sebelum wafat, menangis tersedu. “Ummati…ummati….!” Kata beliau SAW, sambil berlinang air mata. ‘Umatku…umatku….’. Di sini, menunjukkan betapa kepribadian beliau SAW begitu mulia. Di saat menjemput mautpun, beliau SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal jarak kita dengan beliau sekarang ini sudah lebih dari 14 abad lamanya. Subhanallah.

Demikian pula ketika Rasulullah SAW hijrah, sahabat-sahabat beliau SAW, begitu besar perhatiannya terhadap kepentingan dan arti kebersamaan sesama muslim, sehingga ada yang rela menceraikan istrinya untuk ‘diberikan’ kepada sahabatnya orang-orang Muhajirin. Beberapa orang sahabat malah menyerahkan separuh lahan pertanian yang dimilikinya sebagai sumber kehidupan sahabatnya yang baru (al-Qur’an, al-Hasyr: 9). Subhanallah!

Kita? Jangankan mau memikirkan orang lain. Sesama saudara kandung saja, makanan sering dihabiskan sendiri. Apalagi jika itu kesukaan kita. Pokoknya, kalau menyangkut yang enak-enak, kita maunya didahulukan. Sedangkan jika sudah giliran yang susah, membersihkan kamar makan, kosek-kosek kamar mandi, atau yang melelahkan, kita tunjuk orang. Kita kedepankan kebutuhan kita, kita kesampingkan keperluan orang lain.

“We do not follow such system,” kata Alaa Tuti, insinyur komputer asal Libya yang ogah mengenakan dasi. ‘Kita telah mengikuti tradisi Barat’, lanjutnya. Ketika menyelesaikan studi, di universitas al-Fatah, Tripoli, salah satu perguruan tinggi terkenal di Libya, rektor universitas cukup menyampaikan ucapan selamat, kemudian menyerahkan ijazah kepada para lulusan. Demikian pula yang disampaikan Abdul Hakeem, yang menyelesaikan S2 Sastra Arab di India Selatan.

Sedari kecil, anak-anak seharusnya dibiasakan untuk tidak hidup dalam lingkungan yang memupuk pertumbuhan egoismenya. Seringkali kita memberikan puji-pujian kepada anak-anak secara berlebihan, hingga anak-anak akhirnya tumbuh ‘besar’ dan ‘sombong’. Berikan pujian yang sewajarnya, jika mereka menunjukkan prestasi dan kemajuan dalam studi. Berikan dorongan untuk memperbaiki kesalahan, bila hasil ujian mereka menurun. Tekankan untuk tidak mudah putus asa. Jangan pupuk dengan hal-hal yang tidak memberikan manfaat kepada mereka!

Wisuda, bisa dilakukan dengan cara-cara lain yang lebih sederhana, tanpa mengurangi maknanya. Bukannya dengan menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu. Anak-anak keluaran TK, SD, SMP, SMU, dan perguruan tinggi, tidak membutuhkan pakaian kebesaran, pesta, serta mahalnya kertas sertifikat. Yang mereka butuhkan adalah, sesudah selesai studi nanti apa yang bisa mereka perbuat di lapangan sebagai manusia. Mampukah kita meyakinkan mereka akan hal ini?

Kita sudah hanyut dalam budaya yang salah. Cara-cara wisuda kita, tidak lebih dari memupuk pola pikir egois generasi muda. Budaya inilah yang tanpa kita sadari, hanya akan melahirkan generasi yang self centered-personality. Generasi yang berorientasi hanya kepada diri sendiri. Generasi yang motonya hanya ingin diperhatikan orang lain, bukannya mengajak memperhatikan orang lain.

Wallahu a’lam

Karena Kau Cintaku

Sunday, August 28th, 2005

Karena Kau Cintaku
Penulis: Abu Aufa* (http://www.abuaufa.net/)
*Penulis Diary Kehidupan 2 (Penerbit Asy-Syaamil,Bandung) dan Sapa Cinta dari Negeri Sakura (PenerbitPena Pundi Aksara, Jakarta)

Meniti hari meniti waktu / Membelah langit belah samudra
Ikhlaslah sayang kukirim kembang / Tunggu aku…tunggu aku…

Tak ingin segera melepaskan pelukan. Erat, dan semakin kuat merengkuh. Lalu dielusnya dengan lembut wajah teduh yang dihiasi jilbab berwarna pudar itu. Kedua pasang mata saling menatap mesra, penuh selaksa cinta. Tangan pun perlahan takzim diciumnya, berharap kelak merengkuh surga. Kemudian kaki tegap melangkah dengan iringan senyum serta do’a adinda. Sosok tubuh itu
tampak semakin menjauh, namun hati akan selalu menautkan bulir-bulir rindu.

Lelaki biasa itu sesungguhnya sosok yang begitu sederhana. Dirinya hadir untuk mengisi rongga jiwa yang dahaga setelah tiba pertemuan yang ditentukan
Sang Pemilik Cinta. Kala itu, memang tak ada mahar intan permata atau janji sebuah istana nan megah. Ikatan suci pun hanya diikrarkan dalam bingkai
kesederhanaan di mata manusia. Penuh harapan, menyulam pinta keridho’an Sang Pencipta.

Sosok tegarnya memang tak pernah ragu mencari rezeki walau hanya sekadar sesuap nasi. Hatinya teguh, bahkan ketika semburat merah belum sempurna karena sang surya masih meringkuk di peraduan. Demi keluarga, jiwa serta
raga rela digadang dengan kerasnya kehidupan. Meniti hari dan waktu, dibelahnya langit serta samudra. Berharap kelak dapat mengirim kembang untuk yang
disayang.

Masya Allah…
Sungguh teramat indah kehidupan dua anak manusia yang saling mencinta. Dan bukankah dengan cinta itu telah menjadikan sepasang manusia rela bersatu?

Rinduku dalam semakin dalam / Perjalanan pasti kan sampai
Penantianmu semangat hidupku / Kau cintaku kau intanku
Do’akanlah sayang / Harapkanlah manis
Suamimu segera kembali / Suamimu, suami yang baik

Selalu…
Penantian yang tercinta di rumah akan membangkitkan jutaan harapan. Sehingga, lahirlah dua hati yang saling merindukan. Karenanya pula semangat semakin
meluap dan sekujur tubuh terasa lebih bergelora. Impian pun menyelimuti jiwa hingga menggerakkan raga untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Kerinduan memang senantiasa melahirkan kebahagiaan.

Kembali dipatrinya di lubuk hati, lelaki perkasa adalah seseorang yang mendapatkan sedikit harta dengan cucuran keringat sendiri. Kemudian dengan itu
diberikannya makanan dan pakaian untuk dirinya serta orang-orang terkasih. Wanita yang senantiasa menunggu kepulangannya di rumah juga tak pernah meminta lebih. Sabar menerima apa saja yang diberikan, apatah lagi
itu semua adalah tanda cinta sang belahan jiwa. Ketangguhannya mencari nafkah sungguh menyemburatkan bangga. Keikhlasan membanting tulang demi keluarga,
bahkan walau dengan bergenang air mata darah menunjukkan jati dirinya sebagai qawwam. Tak heran, bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah selalu
menebarkan aroma kerinduan.

Duhai Pemilik Cinta…
Betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran seakan tak ada arti dengan apa yang selama ini telah Engkau berikan. Lelaki itu sesungguhnya bukanlah
Nabiullah Daud yang juga senantiasa mencari makan dari hasil usahanya sendiri. Namun, semoga pula jerih payahnya menuai pahala tiada jeda dan henti.

Dan, ketika untuk kesekian kalinya bola mata sang istri menyorotkan tanya di saat sosok itu pulang di malam yang larut. Bahkan rasa capainya belum lagi
enggan hilang, sang suami pun menjawab dengan lembut, "Karena kau cintaku…"

Selalu, dan senantiasa hanya karena itu.

Wallahu a’lamu bish-shawaab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,
Abu Aufa
(Dari para suami kepada istri-istri. Selalu, do’akanlah kami)

Catatan:
Lirik di atas dikutip sebagian dari lagu Ikrar, Iwan Fals.

perubahan

Friday, August 26th, 2005

Semalam ada peristiwa yg sedikit membuat aku terharu… ga terlalu sih, cuman senang yg agak berlebihan… ketika menelpon ToQ, jawaban diseberang yg membuat ku "sejuk"… "ToQ lagi yasinan..telepon lagi 15 menit kemudian" begitu sahutan dari sana.

ToQ yg aku kenal… dulu paling ogah kalo disuruh sholat.. semenjak bokapnya meninggal, dia seperti menghadapi krisis keimanan.. ga percaya sama yg namanya Allah.. jika aku mengingatkan dia untuk sholat, pasti dia bertanya balik.. "Buat apa sih sholat? Dulu gw sholat, berdoa mati2an sama Allah, tapi apa hasilnya? bokap gw tetap aja meninggal…"   aku hanya diam… percuma menjawab pertanyaan orang yg lagi kalut…malah bikin masalah baru..

Tapi itu dulu.. sekarang To-Q yg kukenal beda dgn To-Q yg dulu.. tanpa diingatkan sekarang dia dah mau mulai sholat lagi, plus yasinan tiap malam jum’at..

aku ga tau apa yg bisa bikin To-Q berubah, tp aku yakin hidayah tak akan berhenti mengalir, selama kita mau membuka mata hati dan pikiran kita.. memendam ego dan mau menerima perubahan..

To-Q… tetap dijaga sholatnya ya… dan tetap berdoa, semoga ayahmu tenang disana..

sumber:kisah nyata (25-08-2005 20:15)

Frien N Best Friend

Tuesday, August 23rd, 2005
Friend: calls your parents by mr. and mrs.
Best friend: calls your parents dad & mom or tito & tita.

Friend: has never seen you cry
Best friend: has always has the best shoulder to cry on

Friend: never asks for anything to eat or drink
Best friend: opens the fridge & makes herself at home

Friend: asks you to write down your number.
Best friend: they ask you for their number
                       (cuz they can’t remember it)

Friend: borrows your stuff for a few days then gives it back.
Best friend: has a closet full of your stuff

Friend: only knows a few things about you
Best friend:
 could write a biography on your life story

Friend: will leave you behind if that is what the crowd is doing
Best friend: will always go with you

Friend: will ask where you’ve been

        (after going AWOL)

Best Friend: will say MISS YOU &

             goes on being your friend


Friends Forever!

Written with a pen

Sealed with a kiss

If you are my friend,

Please answer this:

Are we friends or are we not?

You told me once, but I forgot.

So tell me now and tell me true,

So I can say, I am here for you.

Of all the friends I’ve ever met,

You’re the ones I won’t forget.

And if I die before you do,

I’ll go to Heaven

And wait for you.

loving unperfect person by the perfect way

Friday, August 5th, 2005

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk  dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang  tepat, Itulah kesempatan

Ketika engkau bertemu dengan seseorang  yang  membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah  pilihan.. Itupun adalah kesempatan

Bila engkau memutuskan untuk mencintai  orang  tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan Ketika engkau memilih bersama dengan  Seseorang walaupun apapun yang terjadi  Itu adalah pilihan

Bahkan ketika kau menyadari  Bahwa masih banyak orang lain  Yang lebih menarik,pandai, dan kaya Daripada pasanganmu dan Tetap engkau memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan

Perasaan cinta,simpatik,tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita..
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada suatu kutipan dari film yang  Mungkin sangat tepat : Nasib membawa kita  bersama. Tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
Yang diciptakan hanya untukmu

Tetapi tetap berpulang padamu untuk
Melakukan pilihan apakah engkau ingin
Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya
Atau tidak

Kita mungkin kebetulan bertemu  Pasangan jiwa kita, tetap mencintai dan
Tetap bersama pasangan jiwa kita tetap Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari  Seseorang yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang  Yang tidak sempurna dengan cara yang
Sempurna.

7 keajaiban dunia

Friday, August 5th, 2005

Sekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai "Tujuh Keajaiban Dunia". Pada akhir pelajaran, pelajar tersebut di minta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini.

Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi : 1. Piramida Besar di Mesir, 2. Taj Mahal, 3. Grand Canyon, 4. Kanal Panama, 5. Gedung Empire State, 6. Basilika St. Peter dan 7. Tembok China.

Ketika mengumpulkan daftar, sang guru memperhatikan seorang pelajar; seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya." Sang guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, "Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia adalah: 1. Bisa bersyukur, 2. Bisa merasakan, 3. Bisa tertawa, 4. Bisa mendengar….. Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan… 5. Bisa berbagi, 6. Bisa mencintai, 7. Dan bisa dicintai"

Ruang kelas tersebut sunyi seketika …. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada hasil karya manusia dan menyebutnya "keajaiban" sementara kita lihat semua yang telah Allah lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai "biasa".

Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan Anda. Bersyukurlah untuk apa yg telah Anda dapatkan sampai saat ini, karena sesungguhnya semua itu merupakan suatu keajaiban!