Archive for October, 2005

Tuhan dan Hujan, Aku Sedang Jatuh Cinta !

Thursday, October 27th, 2005

I just forward this, I don’t know who’s falling in love
Who knows ?
Maybe it happen with me or you

Gimana sich rasanya orang jatuh cinta

Saat itu aku merasa menemukan serpihan diriku di
dalam dirinya. Saat hujan turun dan mengeluarkan
suara rintiknya yang lembut menyejukan. Entah
apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti
melihat ketenangan dari matanya yang
menerawang. Aku seakan menggapai dirinya
dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di
dalam pikirannya. Hari itu, malam itu, aku seperti
mengenalnya sejak dulu. tersenyum aku jika
teringat malam itu. Akankah malam itu kembali?
Aku tak tahu.

Pernah jemarinya menggengam jemariku, rasanya
bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku,
cintaku tidak terbang mengawang tetapi tetap di
tanah dan melihat tinggi ke awan. Mengagumi
keindahan langit karena jika aku dilangit aku tak
tahu keindahan langit. Ia mengajarkanku
kesederhanaan. Dari sekian lama yang kuperoleh
hanya kepalsuan material yang membosankan dan
fana. Tapi lain dengan cinta yang ia tawarkan. Ia
menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku
ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan
terus menggerogoti hatiku.

Aku takut hatiku mati habis digerogoti
ketidakpercayaan yang semu. Aku takut aku tidak
lagi bisa mencinta. Aku takut aku tidak lagi bisa
percaya. Akankah Ia menunggu hatiku untuk
mencair dari kebekuan rasa curiga? Sampai kapan
ia mau menunggu? Aku tak mau ditinggal sendiri.
Ini terasa menyedihkan. Menyayat. Terasa menjadi
pendosa karena memalingkan wajah dari cinta.
Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri. Aku
takut. Aku tak mau. Betapa inginnya hati ini
menyerahkan serpihan intannya tetapi bagian
diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan hati
nuraniku yang tak lagi kudengar?

Pernah saat matanya mengawang kosong dan
wajahnya tampak lusuh. Seperti ada yang
terbebani dalam kalbunya. Ingin kuusir rasa
penatnya. Ingin kurangkuh dia dalam dekapku.
Ingin kuhibur. Saat penatnya datang. Kutatap
wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya.
Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar,
kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang
sedang aku pikirkan. Ia akan tesenyum.
Tersenyum. Hanya itu yang kucari dalam dirinya.
Agar ia bahagia dan tersenyum.

Entah apa yang dia lihat dari diriku. Aku merasa
kecil jika dibanding dengan yang lain. Aku tak
percaya dia menyerahkan hatinya untukku jaga.
Apakah aku pantas menjadi dewi yang menjaga
hatinya? Bagaimana jika aku memecahkan hatinya
yang bening itu? Aku takut. Aku tak pantas.
Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku tak bisa
sekali saja jujur terhadap perasaanku sendiri!

AKU INI SEDANG JATUH CINTA, TUHAN!!

LETAK KECANTIKAN WANITA

Thursday, October 27th, 2005

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang
dikenakan, bukan pada
bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya.
Kecantikan wanita terdapat
pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya
terletak gerbang
menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat
berkembang

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah
kata-kata kebaikan. Untuk
mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada
setiap orang yang anda
jumpai.
Untuk mendapatkan
sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu
pengetahuan, dan anda
tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu
senantiasa berubah,
diperbaharui, dibentuk kembali,. Jadi,
jangan pernah kecilkan
seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan
semuanya itu,
ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan
pertolongan, akan
senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya
usia anda, anda akan
semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk
menolong diri anda
sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi
pada kecantikan yang
murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih
memberikan perhatian
dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh
sepanjang waktu.

Dimanakah Bahagia?

Wednesday, October 26th, 2005



Pendidikan, kepandaian formal, kehidupan modern terkadang tidak selalu menawarkan kearifan untuk memperoleh, merasakan hidup yang bahagia. Karena masih banyak yang beranggapan bahwa nilai kebahagiaan di ukur dengan kebendaan, status sosial di lingkungannya. Seumpama, harus memiliki seperti yang dimiliki orang lain. Terobsesi, mendambakan sesuatu yang tidak realistis; yang akhirnya malahan menjerumuskan  pada keadaan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Berapa banyak peladang, petani yang meninggalkan tanahnya. Mereka tergoda dan kemudian berbondong-bondong ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Tanah garapan, danau, situ diurug; berubah fungsi menjadi pabrik, pertokoan, perumahan; dibangun atas nama kemajuan, tapi sekedar nafsu mencapai kebahagiaan yang mungkin sesaat dan semu.
Berapa banyak para cerdik pandai justru menyalahgunakan kepandaiannya demi mencapai ambisi, mencari keuntungan pribadi semata. Berapa banyak orang-orang kaya, pejabat yang tamak, serakah tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki,  sehingga masih tega mengambil yang bukan menjadi haknya.

Padahal, beberapa penggalan ayat di kitab suci menyatakan, Allah yang menurunkan air dari langit kemudian menumbuhkan tanaman untuk dapat dinikmati dengan  tidak berlebih-lebihan. Allah yang menundukkan lautan agar dapat kita dapat mencari karuniaNya dan  agar dapat kita bersyukur.
Jadi tampaknya, menjalani hidup tidak berlebihan, pandai bersyukur adalah pintu menuju hidup bahagia.  Bukankah demikian?

                                              ***************
Saya pernah mendengar sebuah kisah bersayap. Kisah tentang orang-orang yang mendapatkan dan  memaknai kebahagiaan dengan cara yang sederhana.

Ada seorang kaya yang berpendidikan tinggi dan memiliki sederetan gelar akademis berlibur di sebuah  desa. Lalu ia bersua dengan seorang penduduk yang sedang memancing. Orang kota itu terheran-heran, karena setelah mendapat seekor ikan yang besar si penduduk segera  pulang. Orang kaya itu pun kemudian mengamati apa yang dilakukan oleh penduduk dengan tangkapan ikannya. Dengan menu seekor ikan besar, si penduduk kemudian bersantap bersama keluarganya. Setelah selesai makan ia beranjangsana ke tetangga, ia main catur kemudian sore harinya ia pergi  bersama anaknya, tetangganya ke surau desa, mengaji, menimba ilmu kehidupan dan bersilaturahmi.

Begitu runtut pola kehidupannya; hampir setiap hari.
Orang kota ini begitu penasaran, melihat di sungai begitu banyak jenis ikan-ikan besar berlimpah ruah. Mengapa mereka tidak menangkap ikan yang lebih banyak?
" Buat apa?" jawab si penduduk.
" Ikan tangkapan yang banyak di jual dan uangnya bisa di belikan jaring yang besar," saran orang kota.
" Buat apa membeli jaring yang besar?"
" Agar cepat memperoleh ikan yang lebih banyak lagi, kemudian dijual dan bisa membeli perahu,"
" Lalu buat apa jika sudah punya perahu?" tanya penduduk itu lagi.
Orang kota yang terpelajar dan kaya itu tercekat tak bisa menjawab. Melihat orang kota yang diam termangu, si penduduk kemudian melanjutkan bicaranya.
" Bukankah pada akhirnya supaya kita bisa makan ikan bersama keluarga, setelahnya kita masih punya waktu bercengkerama bersama keluarga, bersilaturahmi dengan tetangga, dan mengaji di surau?"
***

lebih memahami wanita

Wednesday, October 26th, 2005
Semoga kaum lelaki jadi bisa lebih memahami kaum wanita….

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua
orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling
melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan
sparing partner yang sepadan.

Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk
melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di
belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola
ketika bola itu terlewat olehmu, dialah yang akan
menutupi kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki:

perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan,
kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele…
hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan
menyelesaikan bagiannya…sehingga tanpa kau sadari ketika kau
menjalankan sisa hidupmu… kau menjadi lebih kuat karena
kehadirannya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki,
itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya
dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.

Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki… tetapi ia
butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi….
tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti
dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki,
tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya… kata-kata yang
lembut… ungkapan-ungkapan sayang yang sepele…
namun baginya sangat berarti… membuatnya aman di dekatmu….

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat
laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput
yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon
yang besar dan rindang… seperti juga di dalam kelembutannya di
situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan
dalam situasi apapun.

Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan
dinaungi oleh  pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir
tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya…. tetapi jika
perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita
seluruh hidupnya…Karena perempuan diciptakan dari tulang
rusuk laki- laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki… apa
yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari
hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan
menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan
emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan
di sana….
karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap
keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga… karena kau
dan dia adalah satu…. dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya.
Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di
bagian lapangan yang sama denganmu.

***

Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks!

Friday, October 21st, 2005

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh
kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan,
sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu
kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat
takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa
membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah
sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.
“Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa
suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya
masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia
rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis
lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan.
“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur
gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau,
seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali
sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah
gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain
Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan
anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia,
dan beribu seorang Ummul Mukminin?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih
di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang
pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak
yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan
pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat
dan salam baginya.

***

Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian bagus. Tak harus
baru, setidaknya layak dipakai saat bersilaturahim di hari kemenangan
itu. Namun tak dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat kita,
memakai pakaian baru sudah menjadi budaya. Mungkin budaya ini merujuk
pada kisah di atas, bahwa Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari
raya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut lebaran,
bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu stel pakaian baru
disiapkan, mengingat tradisi silaturahim berlebaran di Indonesia yang
lebih dari satu hari.

Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu, ambil sisi positifnya
saja, bahwa keceriaan hari kemenangan bolehlah diwarnai dengan
penampilan yang lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya
kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan menjalani Ramadhan.
Baju baru bukan cuma fenomena, bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada
cara berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan, yakni
menceriakan anak yatim dengan memberikan pakaian yang lebih pantas di
hari istimewa.

Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju yang baru saja kita
belikan. Tak ketinggalan sepatu dan sandal yang juga baru. Dapatlah
kita bayangkan betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti mengenakan
pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang akan membelikan pakaian baru
untuk anak-anak yatim? Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka
menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang mereka suka. Dapatkah
kita bayangkan perasaan mereka berada di tengah-tengah riuh rendah
keceriaan anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang mereka
kenakan sudah usang.

Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran, tetapi juga
mengajak seorang anak yatim ikut berbaju bagus, sehingga nampak tak
berbeda dengan Hasan dan Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana
menjadikan hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim. Mampukah kita
meniru cara Rasul berlebaran?

Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk anak-anak kita,
adakah sedikit yang tersisihkan dari rezeki yang kita dapat untuk
membeli satu saja pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak
yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya tak hanya milik
anak-anak kita, hari istimewa itu juga milik mereka.

Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul). Gerakan ini, saya
yakin sudah banyak yang melakukannya di berbagai tempat. Namun jika
lebih banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang mau
membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum anak yatim yang
tercipta di hari bahagia.

Tidak Selalu Harus Berwujud “Bunga”

Wednesday, October 5th, 2005

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang
Alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan,dan Dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai Merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi Sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu
Tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan
komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?" Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :

Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan Saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan Perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya. "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal." "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami." "Kamu selalu terlalu Dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik Untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita Tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan Mencabuti uban kamu." "Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti Cantiknya wajah kamu." "Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah Yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup Melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian saya."

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika Kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk Tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang Berdiri di sana menunggu jawaban kamu." "Jika kamu tidak puas dengan jawaban Saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah
Bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
Pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti Kesukaan saya. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur Hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan Cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah Hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari
Pasangan selalu harus berwujud "bunga".

Ketika Rindu yang Terkikis Kembali Hadir

Wednesday, October 5th, 2005

Terkadang kerinduan yang begitu besar terkikis oleh waktu dan kesibukan yang terus mengalir tak tertahankan. Tetapi janji pertemuan yang semakin dekat selalu mengingatkan kembali nostalgia yang terpendam di memori, terungkit lagi kenangan-kenangan indah sebelum perpisahan menjurang lebar menumbuhkan kerinduan yang melambungkan angan dan menantang asa, akankah waktu mempertemukan kembali jiwa perindu pada kekasihnya?

Tertatih aku mengejar bulan
Mengais sisa-sisa Ramadhan
Terjatuh terpuruk di keheningan
Ramadhanku telah pergi
Syawal tlah menjelang
Tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
Pahala bagi orang beriman
….

(suara persaudaraan–album balada sebuah dangau)

Masih kuingat lamat-lamat nasyid itu kulantunkan pada detik-detik akhir Ramadhan penuh berkah, ketika bulan yang begitu dirindukan itu tanpa bisa ditolak pergi meninggalkan. Terasa sekali jiwa ketakwaan yang masih rapuh, saat Ramadhan pergi. Sadar banyak sekali kesempatan terlewatkan tanpa pencerahan. Ingin Ramadhan tetap menjadi hari-hari yang panjang.

Syawal, Idul fitri, tetap menggembirakan. Hari kemenangan. Meski ketakwaan tak yakin telah merasuk di jiwa. Yang diinginkan adalah nuansa Ramadhan yang teduh dan menyimpan energi penyemangat yang unik tetap dirasakan di bulan-bulan yang akan datang. Agar bekal yang telah dihimpun selama Ramadhan bisa tetap terjaga tak ternoda hingga kelak bertemu kembali dengan hari-hari mulia itu, atau lebih dulu kembali menghadap pemilik bulan barokah itu sebelum hilal Ramadhan menggaris di langit dunia.

Ketika perpisahan menjelma, kerinduan pun merasuk ke setiap celah jiwa. Tak henti memori mengingat saat-saat bahagia dalam kebersamaan dan segala romantisme sesaat sebelum waktu memisahkan. Dan kerinduan memberi kekuatan dan optimisme yang khas, harapan kuat untuk bisa berjumpa kembali.

Sebelum terlalu jauh waktu memisahkan jiwa dari Ramadhan, nuansa ruhiyah masih betah dalam lingkaran pengaruhnya. Shalat, shaum, tilawah, dan amalan yang lainnya masih mudah dijaga dan dipelihara. Sampai ketika waktu semakin jauh menyeret jiwa yang belum utuh takwa, direcoki oleh berbagai hiruk sibuk dunia, kerinduan akan nuansa teduh Ramadhan mulai menguap. Lupa. Meski tetap ada tetapi tak nampak di pelataran jiwa, tersembunyi di pojok jiwa yang terlupakan.

Kini kerinduan itu hadir kembali di pelataran jiwa, ketika Sya’ban menyapa dan mengatakan Ramadhan kan datang dalam hitungan hari. Kerinduan yang terkikis kini kembali hadir. Harapan untuk bisa merasakan lagi nuansa khas bulan yang memiliki hari seribu bulan itu kembali menguat. Tetapi, akankah aku menatap kembali wajahnya yang teduh? Siapa yang bisa memberi kepastian, sedang ajal hanya ada di genggaman-Nya?

Ah, Ramadhan, jumpai aku. Biarlah aku menghabiskan waktuku bersamamu dengan untaian amal yang melangit. Banyak kesempatan terlewatkan tanpa pencerahan, di Ramadhan yang lalu. Kalau waktu masih mengizinkanku menemuimu aku berharap Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terbaik di antara Ramadhan yang pernah kulalui. Kuingin Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang bisa membawaku ke puncak derajat takwa. Ramadhan yang mempertemukanku dengan diriku yang seutuhnya, seperti yang kuinginkan sebagai seorang muslim.

Ramadhan menyimpan banyak rahasia unik yang mampu memberikan atmosfir yang menghidupkan nurani dan semangat ibadah. Seperti Rasul Mulia (SAW) yang dermanya di bulan suci menyerupai hembusan angin. Ramadhan akan menyajikan berbagai kesempatan, peluang dan kemudahan untuk kita melakukan sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya amalan. Jika kita mempersiapkannya sejak Sya’ban menjelang maka banyak hal yang akan kita peroleh, tetapi jika kita baru tersadar ketika ramadhan sudah membuka pintunya Ramadhan maka banyak hal akan terlewatkan tanpa arti yang dalam.

Mumpung masih ada banyak hari yang bisa kita hitung sebelum Ramadhan tiba, marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Bersihkan diri, agar kesucian diri yang bersinergi dengan kesucian Ramadhan menghasilkan keajaiban jiwa yang menakjubkan, tercapainya derajat takwa. Azamkan dalam hati untuk banyak beramal di bulan lipat ganda, agar semakin banyak niat yang kita tanamkan semakin banyak tunas amal yang tumbuh, dan semakin banyak buah amal yang kita petik. Kalaupun taqdir memaksa kita untuk tidak melaksanakan niat yang kita telah kita tanamkan, insya Allah niat saja jauh lebih baik daripada tiada keinginan sekali. Bukankah niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya itu sendiri?

Nun di sana
Masih ada jalan putih
Peluang kebaikan
Sebulan di Bulan Ramadhan…
(Now See Heart)

Allahumma baarik lanaa fi Sya’ban wabalighnaa Ramadhan. Spesial buat semua teman " Have a Nice Ramadhan "

Jauh Mimpiku - Peter Pan (OST Alexandria)

Tuesday, October 4th, 2005

pernah ku simpan jauh rasa ini
berdua jalani cerita
kau ciptakan mimpiku
jujur ku hanya sesalkan diriku

kau tinggalkan mimpiku
dan itu hanya sesalkan diriku

ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

ku harus lepaskanmu
melupakan senyummu
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

semua tentangmu, tentangku, hanya harap
jauh, ku jauh, mimpiku dng inginku

jauh mimpiku dengan inginku

Tak Bisakah - Peter Pan (OST Alexandria)

Tuesday, October 4th, 2005

hatiku bimbang namun tetap pikirkanmu
selalu selalu dalam hatiku
ku melangkah sejauh apapun itu
selalu engkau di dalam hatiku

ku berjalan berjalan memutar waktu
berharap temukan sisa hatimu
mengertilah ku ingin engkau begitu
mengerti kau di dalam hatiku

reff: tak bisakah kau menungguku
hingga nanti tetap menunggu
tak bisakah kau menuntunku
menemani jalan hidupku

ku berjalan berjalan memutar waktu
berharap temukan sisa hatimu
mengertilah ku ingin engkau begitu
mengerti kau di dalam hatiku

dara kau menjadi hidupku
kemana kau tahu isi hatiku
tunggu sejenak aku di situ
jalanku jalan menemukanmu

repeat reff