Tuhan dan Hujan, Aku Sedang Jatuh Cinta !

I just forward this, I don’t know who’s falling in love
Who knows ?
Maybe it happen with me or you

Gimana sich rasanya orang jatuh cinta

Saat itu aku merasa menemukan serpihan diriku di
dalam dirinya. Saat hujan turun dan mengeluarkan
suara rintiknya yang lembut menyejukan. Entah
apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti
melihat ketenangan dari matanya yang
menerawang. Aku seakan menggapai dirinya
dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di
dalam pikirannya. Hari itu, malam itu, aku seperti
mengenalnya sejak dulu. tersenyum aku jika
teringat malam itu. Akankah malam itu kembali?
Aku tak tahu.

Pernah jemarinya menggengam jemariku, rasanya
bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku,
cintaku tidak terbang mengawang tetapi tetap di
tanah dan melihat tinggi ke awan. Mengagumi
keindahan langit karena jika aku dilangit aku tak
tahu keindahan langit. Ia mengajarkanku
kesederhanaan. Dari sekian lama yang kuperoleh
hanya kepalsuan material yang membosankan dan
fana. Tapi lain dengan cinta yang ia tawarkan. Ia
menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku
ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan
terus menggerogoti hatiku.

Aku takut hatiku mati habis digerogoti
ketidakpercayaan yang semu. Aku takut aku tidak
lagi bisa mencinta. Aku takut aku tidak lagi bisa
percaya. Akankah Ia menunggu hatiku untuk
mencair dari kebekuan rasa curiga? Sampai kapan
ia mau menunggu? Aku tak mau ditinggal sendiri.
Ini terasa menyedihkan. Menyayat. Terasa menjadi
pendosa karena memalingkan wajah dari cinta.
Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri. Aku
takut. Aku tak mau. Betapa inginnya hati ini
menyerahkan serpihan intannya tetapi bagian
diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan hati
nuraniku yang tak lagi kudengar?

Pernah saat matanya mengawang kosong dan
wajahnya tampak lusuh. Seperti ada yang
terbebani dalam kalbunya. Ingin kuusir rasa
penatnya. Ingin kurangkuh dia dalam dekapku.
Ingin kuhibur. Saat penatnya datang. Kutatap
wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya.
Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar,
kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang
sedang aku pikirkan. Ia akan tesenyum.
Tersenyum. Hanya itu yang kucari dalam dirinya.
Agar ia bahagia dan tersenyum.

Entah apa yang dia lihat dari diriku. Aku merasa
kecil jika dibanding dengan yang lain. Aku tak
percaya dia menyerahkan hatinya untukku jaga.
Apakah aku pantas menjadi dewi yang menjaga
hatinya? Bagaimana jika aku memecahkan hatinya
yang bening itu? Aku takut. Aku tak pantas.
Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku tak bisa
sekali saja jujur terhadap perasaanku sendiri!

AKU INI SEDANG JATUH CINTA, TUHAN!!

Leave a Reply