Archive for November, 2005

Mewaspadai Empat Perkara

Monday, November 21st, 2005

Mewaspadai Empat Perkara

Setiap manusia mencari kebahagiaan di dunia ini. Ada yang mencari bahagia di kantor, di sekolah, di warung kopi, di mal, di pasar, atau di mana saja. Mungkin ada yang bahagia saat membeli perhiasan baru, dan ada yang merasa bahagia ketika baru menerima gaji. Bahkan ada pula yang memiliki rasa bahagia hanya karena sepucuk surat dari orang yang tercinta.

Kebahagiaan adalah milik siapa saja, baik yang kaya maupun yang miskin, yang berpangkat ataupun tidak, yang memiliki jabatan tinggi atau rendah, yang memiliki gelar ataupun tidak, dari seorang bocah yang masih ingusan hingga yang renta. Semua berhak mendapatkan sesuatu yang bernama bahagia, karena inti kebahagiaan adalah mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Itulah bahagia.

Tetapi cobalah tengok aktifitas keseharian kita. Usai bangun tidur dan salat subuh berjamaah dengan isteri dan anak-anak, telpon mulai berdering, radio berbunyi membeberkan bursa efek dan valuta asing, sementara televisi sudah menyuguhkan berita terhangat bahkan gambar yang kadang tak layak dilihat anak-anak kita. Sementara al-Qur’an nyaris kita tinggalkan. Kita lupa terhadap perintah Rasulullah: sinarilah rumahmu dengan bacaan al-Qur’an.

Kalau hak Allah tersisihkan, kata Rasulullah, maka Allah akan menumbuhkan empat perkara. Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia sebagai konsentrasi yang utama, dan sama sekali tidak memperhatikan hak Allah, niscaya Allah akan menumbuhkan empat perkara kepadanya. Pertama, keinginan yang tidak pernah habis-habisnya. Kedua, kesibukan yang tidak pernah terselesaikan olehnya. Ketiga, kebutuhan yang tidak berujung. Dan keempat, angan-angan yang tidak pernah tercapai. (HR Dailami)

Hal tersebut terjadi karena konsenstrasi kita belum seimbang. Ada cara yang efektif untuk menghindari dari penyakit tersebut. Ketika kita makan, seyogyanya niatkan untuk mengisi ulang energi dalam rangka beribadah kepada Allah. Manakala kita hendak bekerja, lakukan niat bahwa bekerja adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan untuk menafkahi isteri dan keluarga. Dengan demikian, bekerja atau aktifitas apapun untuk kepentingan keluarga dan masyarakat akan bernilai ibadah di sisi Allah swt.

"….Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu…" (QS 9:105)

Bekerja itu sendiri adalah nikmat Allah yang wajib disyukuri. Salah satu mensyukuri nikmat itu diaplikasikan dengan menyumbangkan sebagian kecil harta kita kepada orang yang berhak menerimanya. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa mendermakan harta merupakan salah satu upaya untuk membersihkan harta dari hal-hal yang mengandung syubhat, menolak malapetaka dan penyakit, serta mendatangkan rezeki yang lebih berkah disamping menggembirakan orang miskin (idkhalus suruur lil-mu’minin).

Dengan demikian keempat macam penyakit tadi dapat dihindari; segala keinginan pasti terbatas karena hanya karena Allah semata, kesibukan akan terselesaikan karena Allah senantiasa memberi inayah (pertolongan), kebutuhan akan terpenuhi karena Allah swt memberkahi, dan tentunya tidak ada angan-angan yang lebih mulia selain mengharap ridha Allah swt.

Wallahu a’lam

Ayah (Hampir) Pensiun Kini

Monday, November 21st, 2005

Ayah (Hampir) Pensiun Kini

Beberapa kali ayah saya membicarakan tentang rencana pensiunnya. Beberapa kali pula itu saya tanggapi dengan setengah hati. Bukan karena tidak menghormati beliau tetapi saya merasa tidak bermasalah dengan pensiun itu. Toh selama ini saya sudah belajar memenuhi semua kebutuhan hidup sendiri. Justru saya senang karena ayah akan punya banyak waktu di rumah dan bisa melakukan kegemaran berkebunnya. Namun ternyata tidak hanya ayah yang ‘ribut’ masalah pensiun, tapi juga ibu. Suatu ketika dengan serius beliau membicarakan rencana pensiun ayah tersebut. Ibu membeli sawah dekat rumah, katanya untuk aktivitas ayah. Selama ini Ayah memang perlu berjalan jauh untuk ke sawah. Ayak! Segitunya. Dan kembali saya tanggapi dengan tenang. Saya setuju saja, wong itu juga investasi.

Lama-lama saya risih juga. Setiap kali pulang mudik, tidak ada ada topik lain kecuali pensiun. Setelah lama baru saya mengerti bahwa ayah saya sedang memasuki masa penyesuian untuk tahap usia selanjutnya. Dalam psikologi perkembangan dikenal dengan masa lanjut usia. Masa ini biasanya ditandai dengan mulainya pensiun atau menurunnya fungsi-fungsi tubuh baik fisik maupun psikis. Ada juga yang mengalami post power syndrome. Saya memahaminya sebagai suatu gejala perubahan respon terhadap perubahan situasi. Tak terkecuali ayah saya, tak urung pensiun itu menjadi pemicu kecemasannya. Meski beliau belum benar-benar pensiun dari pekerjaannya.

Ada sikap mental yang harus dikelola dalam masa perubahan yang dialami setiap orang. Ayah saya sedang mengalami perubahan peran, perubahan kebiasaan dan berbagai hal yang mengikuti atas perubahan statusnya kini. Dulu beliau adalah seorang guru dengan kesibukan mengajar, menyiapkan ulangan, mengoreksi ujian dan berbagai aktivitas lain sebagai pegawai negeri. Dulu ayah memiliki relasi sesama guru dan aktivitas relationship yang tentu berbeda dengan ketika nanti beliau pensiun. Dulu saya sering meminta uang dan mengharap berbagai hadiah dari beliau. Tentu nanti saya akan tak asal minta.

Saya bisa menyesuaikan masalah ini. Karena saya pun mulai melonggarkan ketergantungan saya pada orang tua. Baik itu masalah keuangan maupun keputusan-keputusan hidup. Tetapi saya kan tidak tahu sudut pandang orang tua. Mungkin kita tidak merasa perlu meminta uang saku lagi. Tetapi bisa jadi itu masalah bagi ayah, karena merasa tidak bisa memberi lagi. Sesuatu yang biasa bagi saya ketika bercerita tentang aktivitas di kantor atau bercerita tentang teman-teman kantor, padahal itu belum tentu menjadi bahan cerita yang menyenangkan bagi beliau. Ah, kini saya mengerti.

Kali ini saya akan pulang dengan padangan yang berbeda. Seorang teman menawarkan bibit pohon jati gratis ketika kami sama-sama mengikuti Jogja Education Fair. Stan kami berhadapan. Saya pun memboyong sepuluh bibit pohon jati setinggi pinggang. Sesampai di rumah saya langsung mencari ayah dan mengatakan rencana saya. Saya ingin punya hutan jati. Saya ingin kebun kami juga dipenuhi pohon pisang dan buah-buahan lain. Oya, kami juga merencanakan untuk beternak kambing untuk persiapan tahun 2009. Ehm, topik pembicaraan kami kini telah berganti. Ayah selalu melaporkan perkembangan kebun-kebun kami. Atau rencana kandang kambing kami. Tentu saya juga menaggapinya dengan antusias, meski sebenarnya saya tidak tahu-menahu tentang kambing dan pohon pisang.

Ah, sebenarnya ini adalah hal yang sederhana. Kita tak perlu mengirim orang tua kita ke panti jompo. Hal yang sering dilakukan orang ketika para orang tua kita sudah lanjut usia sedang kita memiliki kesibukan yang sangat. Tetapi kita hanya perlu memberikan perhatian dengan memberikan kebutuhannya. Saya tidak marah bila tiba-tiba ayah muncul di kampus atau di kantor bahkan pada jam-jam sibuk hingga tidak bertemu saya. Pernah suatu ketika beliau telpon ke kos saya, padahal sehari sebelumnya saya sudah izin untuk keluar kota. Pada awalnya saya marah karena merasa bersalah tidak dapat menemui atau menjawab telponnya. Saya sudah memberikan jadwal aktivitas saya, hingga harusnya beliau tahu kapan kami bisa bertemu. Tetapi, ayah saya memang punya cara yang unik dalam mengekspresikan cintanya. Saya makin mengerti. Setelah itu kami malah punya bahan cerita. Ya, Ayah pasti akan bercerita tentang “petualangannya” mencari saya tanpa ekspresi menyesal. Saya pun mendengarnya tanpa bosan.

Saya juga dengan senang hati menerima tawaran diantar ke tempat rapat, ke kampus dan lain-lain (bahkan ditunggu hingga selesai acara), meski dengan kecepatan motor setengah dari kecepatan saya. Padahal untuk sesuatu yang mendesak, saya tipe orang yang memilih naik taksi meski mahal, dari pada naik angkot berlama-lama. Bayangkan saja, Ayah mengantar saya dari Parangtritis hingga ring road selatan yang berjarak sekitar 20 km, lalu Ayah pulang ke Parangtritis lagi. Padahal perjalanan saya tinggal lima belas menit menuju kampus. Hihi, kadang saya merasa konyol. Tetapi kali ini anggap saja kami sedang ingin bernostalgia. Meski beliau kian uzur, cintanya tidak luntur. Beliau masihlah jagoan saya. Seperti dulu, beliaulah yang mengantarkan ke mana saya suka. Sebaiknya kita memang harus punya daya kompromi yang luas, demi orang tua kita.

Pada umumnya ada dua tipe orang lanjut usia, yang full activity dan disangagement, yang terus aktif dan yang lebih memilih banyak istirahat. Setelah mengenali tipe ini, kita bisa menentukan dengan tepat bagaimana seharusnya kita bersikap. Ayah saya tipe orang yang suka beraktivitas, maka sengaja saya sediakan “ruang” untuk tetap beraktivitas, tentu dengan mengikuti pergesaran perannya. Ini berbeda dengan ibu saya yang justru “pusing” melihat kegiatan saya yang tak pernah henti. Kadang-kadang saya memerlukan untuk diam di rumah, cuti atau mudik untuk sekedar tidur-tiduran atau membaca buku. Hanya demi melihat Ibu saya nampak lega karenanya. Hanya kitalah, anak-anaknya atau keluarga besarnya yang dapat mengantarkan orang tua kita pada perasaan sejahtera. Hingga beliau tak pernah merasa disisihkan karena kesibukan kita. Saya percaya setiap kita pasti mencintai beliau dengan amat sangat. Tetapi tidak setiap orang tua dapat memahami cinta kita itu. Kitalah yang harus memahami beliau dengan ekspresi cinta yang beliau sukai. Untuk

***

semua orang tua yang “membesarkan” kita, I love you.

Bila Waktu Tlah Berakhir

Tuesday, November 15th, 2005

- Bila Waktu Tlah Berakhir

- Opick

bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggallah sepi

” Semua Untuk Cinta “

Monday, November 14th, 2005

Semua Untuk Cinta MIKE ‘IDOL’


Dalam lelah kuberharap
Datangnya sebuah keajaiban
Walau berat kurasakan
Namun kulakukan semua untuk cinta

    Bila sampai di malam ini
    Aku masih bertahan
    Ini semua ku persembahkan untukmu

Bila kini aku bahagia
Bukan hanya untukku
Di sini kita pernah menangis bersama

    Semoga cinta selalu ada
    Dalam hati kita

Dalam lelah kuberharap
Datangnya sebuah keajaiban
Walau berat kurasakan
Namun kulakukan semua untuk cinta

    Selama cinta itu
    Ada di sisi kita selamanya

…Still Try to Forget it all behind…

“.. do the best and GOD will take the rest..”

Monday, November 14th, 2005

Ada yang menggembirakan ketika membaca e-mail sore tadi, sebenarnya e-mail tsb diterima jum’at 11 Nov 05, tp berhubung mail server kantor error (receive terus berulang-ulang) jd baru dibaca tadi..

well, isi berita itu adalah my lovely ex-boy friend… hihihihi… well, actually my TTM..hehehe.. it’s getting married on Dec 4th… selamat ya Maz, akhirnya berani jg ente ngelamar tuh cewe’ setelah perjuangan yg demikian besar menghadapi nyokapnya..yang bikin gw terharu and salut adalah salah satu pernyataannya “… sebenarnya dia bukan tipe cewe’ ideal gw Dev, tapi gw yakin ga ada manusia yg diciptakan sempurna, kesempurnaan itu hanya akan timbul jika kita udah bisa nerima kekurangan seseorang..”

Hiks.. gw jadi terharu banget, hampir aja gw nangis.. ga nyangka kata2 itu bisa keluar dari seorang PlayBoy kelas teri.. (hehehe..sorry ya kalo gw bilang kelas teri, sebenarnya modal lo dah cukup buat jadi palyboy dg level yg rada tinggi, cuman kadang lo terlalu pemilih :p)

Gw jadi inget ketika dia amat sangat bermasalah dg cewe’nya… gilaaa… almost 2,5 jam dia curhat ama gw, bahkan rela ntraktir gw dinner buat ngedengerin curhatannya, hampir dia juga putus asa dg sikap calon mertuanya yg sinis sm dia, saran gw waktu itu sih simple.. “..kalo lo emang sayang sama dia..just fight for her.. do the best and GOD will take the rest..” and ternyata hal itu jadi kenyataan….pada tanggal 4 desember nanti.

Selamat ya… Moga pilihan lo kali ini TEPAT.. met berbahagia dengan pilihan lo itu… Asli gw BAHAGIA banget begitu tau berita itu LANGSUNG dari lo… jangan lupa undang2 gw yaaaaaaaaa.. J

…Separuh Hidupku…

Sunday, November 13th, 2005

Separuh Hidupku - Titi DJ

pernahkah selama ini
ku berhenti mencintaimu
pernahkah kau mendengar
ku tak ucap sayang padamu

di setiap getar jantung
ku selalu sebutkan namamu
cintamu tlah membuat hatiku
terukir jelas dirimu

reff: engkaulah jiwaku
engkaulah mimpiku
kaulah separuh dari hidupku
hanyalah dirimu
yg membuat segalanya indah

bilakah yg kurasa
semua itu akan abadi
kan kulakukan segalanya
agar ku dapat cintamu

reff2: ku sayang dirimu
ku jaga hatimu
di sini tempatmu di sisiku
tetap ku terjaga
dalam tidurku memikirkanmu

***

dedicated to : "..Separuh Nafasku.."  My life would be empty without u, u’re the reason why I breathe..My life couldn’t be complete without u by my side.

- My Everything -

Sunday, November 13th, 2005

My Everything - Glenn Fredly feat. Red

cruising when the sun goes down
i cross the sea
searching for something inside of me

i would find all the lost pieces
hardly feel deep in real
i was blinded now i see

* hey hey hey you’re the one
hey hey hey you’re the one
hey hey hey i can’t live without you

reff: take me to your place
where our heart belongs together
i will follow you
you’re the reason that i breath

i’ll come running to you
fill me with your love forever
promise you one thing
that i would never let you go
coz you are my everything

you’re the one, you’re my inspiration
you’re the one kiss, you’re the one
you’re the light that would keep me safe and warm
you’re the one kiss, you’re the one
like the sun goes down coming from above all
to the deepest ocean and highest mountain
deep and real deep i can see now

***

dedicated to : "My Everything" wish we could be together.

“Just do ur best…’n let GOD do the rest…”

Sunday, November 13th, 2005

Musibah Dan Berkat

Dahulu kala di China, ada satu desa kecil, hiduplah seorang tua miskin yang bekerja sebagai penebang pohon. Ia hidup bersama seorang anak laki muda, anak satu-satunya dan seekor kuda putihnya yang sangat gagah rupanya.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.
Seluruh Orang desa datang menemuinya dan berkata : "Orang tua malang, kudamu pasti hilang dicuri dan anda akan ditimpa kemalangan lebih lanjut"

Orang tua itu menjawab, "Jangan menilai terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian.

Apakah saya akan ditimpa kemalangan atau tidak,  bagaimana mungkin kalian dapat mengetahui hal itu ? 

Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu tidak ada, selebihnya saya tidak tahu.

Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak tahu.

Yang kita lihat ini hanya sebagian kejadian saja.
Siapa yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi nanti?".
Orang-orang desa tertawa semuanya dan menganggap orang tua itu gila.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Kuda itu tidak di curi, dia Hanya pergi
ke hutan, dan saat dia kembali, dia membawa selusin kuda  liar bersamanya.

Sekali lagi penduduk desa berkumpul dirumah tukang penebang pohon dan Berkata : "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan ternyata suatu berkat. Maafkan kami."
Jawab orang tua itu, "Sekali lagi kalian telah bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali bersama 15 kuda lainnya, dan jangan membuat penilaian. Bagaimana kalian tahu hal ini adalah berkat ?"

"Barangkali orang tua itu benar," kata mereka satu kepada yang lain, selanjutnya
mereka tidak banyak berkata-kata. Di dalam hati mereka tahu, bahwa orang tua itu pasti salah.

Menurut mereka itu adalah berkat.
Satu kuda kembali bersama 12 kuda liar, artinya dengan kerja sedikit, kuda liar itu
dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual dan menghasilkan banyak uang.

Esoknya, anak si penebang pohon mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Pada hari
ketiga, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah.

Sekali lagi orang desa kumpul di rumah orang tua itu dan berkata : "Pak Tua,
ucapanmu benar, kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat melainkan mala petaka.  Sekarang satu-satunya anakmu cedera & tidak dapat membantumu menebang pohon & kamu akan lebih miskin lagi".

Orang tua itu menjawab : "Hei orang-orang pandir, kalian masih  keracunan pikiran untuk langsung menilai, katakan saja bahwa kaki  anak saya patah.

Siapa yang tahu bahwa ini berkat atau mala petaka?"

Seminggu kemudian negara itu berperang dengan negara tetangganya & mewajibkan seluruh anak muda yang ada untuk ikut berperang. Hanya anak muda yang patah kakinya saja yang tidak ikut berperang.

Sekali lagi orang berkumpul di rumah orang tua itu sambil menangis dan Berkata :
"Pak Tua, kamu benar-benar beruntung, anak kami harus pergi bertempur dan kami tidak tahu apakah mereka akan kembali dalam keadaan hidup atau mati, musuh sangat kuat dan besar jumlahnya".

"Jangan kuatir akan hari esok, karena hari esok belum tentu lebih susah dari hari ini".

"Just do ur best…’n let GOD do the rest…"

DayDreamer

Thursday, November 10th, 2005

OST Dealova - Once

aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
oh karena hati tlah letih

aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
oh bayangmu seakan-akan

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada

hanya dirimu yg bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi

selalu ada, kau selalu ada
selalu ada, kau selalu ada

***

Idul Fitri, Hari Kemenangan

Sunday, November 6th, 2005

Idul Fitri, Hari Kemenangan

- Rasanya baru saja kita berucap,"Marhaban ya Ramadhan." Begitu kita dengan suka cita menyambut bulan Ramadhan, bulan penuh kemuliaan saat ia hadir. Tapi kini bulan kemuliaan ini telah beranjak pergi meninggalkan kesedihan karena perpisahan dengannya. Terutama bagi mereka orang-orang yang beriman dan menghayati kehadiran bulan suci ini dengan berbagai kegiatan ibadah. Sungguh telah pergi bulan yang dijanjikan kepada mereka, orang-orang yang beriman, bulan di mana setiap orang dapat berlomba-lomba mencapai predikat takwa.

Tinggallah kini sebaris doa yang terucap,"Allahumma ballaghna Ramadhaana." Ya Allah! Sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Seperti inilah kata-kata yang terucap dari bibir orang-orang beriman begitu berpisah dengan Ramadhan, penuh harap akan diberikan kesempatan bertemu dengan bulan surga, bulan Al-Qur’an dan Lailatul qadr dalam tahun berikutnya.

Kerinduan, kerinduan, itulah yang akan terbit di hati orang-orang beriman yang menantikan Ramadhan yang telah berlalu. Teringat akan puasa, tahajjud dan i’tikaf bersamanya. Teringat dengan tilawah Al-Qur’an, zikir dan doa bersamanya. Teringat akan anugerah, barakah, dan kebaikan yang berlimpah padanya. Teringat dengan rahmat, maghfirah, dan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan lalu kita melakukan introspeksi akan segala kelemahan, kekurangan, dan banyaknya kebaikan yang telah terlewatkan. Berapa banyak kebaikan dalam puasa hilang bersama ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan pandangan yang penuh tipuan (kha’inah). Berapa banyak kebaikan shalat malam hilang bersama nyenyaknya tidur, menonton film, drama, sinetron, dan perbuatan tidak baik lainnya. Berapa banyak kebaikan dalam Al-Qur’an telah hilang bersama kemalasan untuk duduk dalam halaqah zikir dan kebaikan-kebaikan lain yang hilang begitu saja.

Lalu kita pun berjanji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa pada Ramadhan yang akan datang akan berbuat lebih baik lagi dan mengganti kebaikan-kebaikan yang telah ditinggalkan begitu saja. Sembari terus berdoa,"Allahumma ballaghna Ramadhaana."

Penuh harap dan penuh rindu begitulah kita terhadap Ramadhan yang telah meninggalkan kita. Betapa tidak, bulan penuh kemuliaan ini adalah bulan dengan pohon takwa. Pohon yang daun-daunnya berguguran sepanjang tahun, di bulan Ramadhan masanya menjadi tumbuh bersemi kembali. Pohon takwa yang diterpa badai maksiat sepanjang tahun bulan ini waktunya tumbuh menjadi pohon yang teduh , memberikan naungan dan berbagai kebaikan, serta memberikan buahnya sepanjang musim dengan seizin Rabb-nya. Dan semuanya itu memungkinkan seorang muslim untuk terus dalam keadaan bertakwa sepanjang tahun, hingga datangnya Ramadhan berikutnya.

Kini perjalanan iman kita telah sampai pada kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Kita merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita, dengan penuh kegembiraan. Dan tentu saja kesukacitaan dan kegembiraan ini hanya akan dengan sempurna dirasakan oleh orang-orang yang telah berhasil melampaui tahap perjuangannya selama bulan Ramadhan dengan amalan-amalan kebaikan siang dan malam. Mereka menahan rasa haus dahaga, lapar dan menjaga syahwatnya serta dengan tetap khusuk pula beribadah di siang hari. Dilanjutkan malamnya untuk lebih bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya dengan shalat lail, tarawih, tadarus Al-Qur’an serta kebaikan-kebaikan lainnya yang tiada putusnya.

Di Hari Raya Idul Fitri ini biasanya kita saling memaafkan dan bersilaturahmi satu sama lainnya. Pendek kata pada hari ini kita bersukacita dan berbahagia atas kemenangan yang kita raih.

Lebih tepatnya kita tidak bersukacita dan berbahagia karena merasa telah terbebas dengan beban karena terpaksa harus berpuasa sebulan penuh. Lantas kita berpesta pora dan lupa diri setelahnya. Sebab jika demikian cara kita menyikapi Idul Fitri ini, maka itu artinya akan sangat bertolak belakang dengan yang diharapkan dari nilai puasa kita sebulan penuh, untuk memperoleh predikat takwa.

Hal-hal yang bertolak belakang dalam merayakan Idul Fitri yang perlu kita garis bawahi semisal dimulainya babak baru hura-hura dan perbuatan sia-sia lainya justru di hari yang fitrah ini.

Oleh karena itu, dengan kejernihan berpikir kita seandainya kita masih tergolong di antara orang-orang yang menyikapi perayaan Idul Fitri dengan hura-hura atau perbuatan yang berlebih-lebihan dan bahkan sampai melanggar batas-batas agama, maka di tahun ini saatnya kita berubah menjadi muslim yang benar-benar kembali fitrah setelah membasuh dosa-dosa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Mari kita rayakan hari kemenangan kita dengan bertafakkur dan bermuhasabah (merenung dan menilai kembali) atas apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Kita mulai kembali lembaran hidup kita dengan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan kita. Kita luruskan kembali niat dan tujuan hidup kita di tengah kerasnya perjuangan yang tengah kita jalani.

Mari kita bayangkan kedua orangtua kita, anak-anak kita dan istri kita atau saudara-saudara kita di hari yang fitrah ini mereka mungkin menitikkan air matanya tanpa kehadiran kita di kampung halaman. Apa mau dikata, kita terpaksa melawan kerasnya kehidupan berjuang menegakkan kehidupan terpisah dari mereka demi hari esok yang lebih baik dan lebih mulia. Maka tiada lain buat kita kecuali mewujudkan apa yang menjadi harapan. Dan semuanya akan menjadi nyata adanya jika kita memulai hidup baru kita, pada hari yang fitrah ini dengan menjadi muslim dan muslimah yang selalu berjalan pada koridor agama Islam yang mulia ini.

Di hari yang fitrah ini kita bertekad memperbaiki kadar keimanan kita pada hari-hari selama sebelas bulan berikutnya. Anggaplah selama bulan Ramadhan yang lalu kita telah berniaga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala selama sebulan penuh dan hasil perniagaan ini menjadi bekal buat kita untuk sebelas bulan selanjutnya. Tentu saja dengan selalu berusaha melakukan yang terbaik semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab bukankah kita diciptakan hanya untuk mengabdi kepada-Nya?

Alangkah indahnya hari kemenangan kita, Idul Fitri 1426 kali ini, batapa damai rasanya. Meskipun kita jauh dari sanak saudara ribuan mil jaraknya tapi hati kita begitu tentram sebab kita kembali fitrah.

Selamat Idul Fitri 1426 H. Mohon maaf lahir dan bathin.***