Archive for March, 2006

Samson - Dengan Nafasmu

Friday, March 24th, 2006

Ada yang punya liriknya?
bagi dong.. biar bisa diisi disini… ;)

yipppiii……

Friday, March 24th, 2006

Sabtu ini (seperti biasa) ngantor lagi.. re-design interior ruangan saya.. capek.. karena banyak yg harus dibenahi dan ternyata kolong2 meja tuh kotor banget yah.. mungkin lebih dari 5 tahun ngga terjamah sapu.. (hiperbola banget…hehehehe )

ada pengumuman yang membahagiakan hati.. ternyata minggu depan ngga ada hari kejepit.. jadi tgl 31-Maret, kantor libur.. ngga kebayang libur 4 hari (dengan berat hati, saya memutuskan utk ngga ngantor hari sabtunya :D), jadi ber-angan2 menyusun rencana buat menghabiskan waktu, sepertinya keluar kota enak jg nih….kemana ya kira2…hmm.. sepertinya ngeliat merapi ide bagus… ;)

Siap2.. ngepak baju..
sayangnya kamdig rusak.. hiks…  terpaksa kembali dulu ke kamera konvensional… putar engkol..

PMS
Bawaannya emosi mulu… sensi.. bete…gampang tersentuh..
perut sakit.. pinggang pegel
numbuh jerawat
dan klimaksnya… nafsu makan jadi gila2an… rusak deh diet saya :((

Kesukaan masa kecil
Coklat ayam sama wafer superman… dah paling TOP deh kalo jajan 2 macem makanan itu..
es lilin… yummy…lom lagi gulali yang bisa dibentuk macem2..
Keliling2 naik sepeda.. dan pernah jg nabrak orang gara2 naik sepeda, hidung bengkok gara2 sepeda juga.. trus jidak bocor, sama diseruduk kambing…,ngga tau apa sebab tiba2 tuh kambing main seruduk aja, cinta banget tuh kambing sama saya.. *halaah,sama kambing aja bangga*


Obsesi (copy-paste blog sebelah plus diedit :p - males ngetik ulang)
Laptop –> barang ini yang dah lama saya impi2kan untuk jadi penghuni kamar, cuman kok lom kebeli2 yaaah? hehehehe…
Kerja di Perusahaan minyak –> ini juga salah satu obsesi saya, sebenarnya sih obsesi masa lalu, sekarang saya lebih prefer jadi PNS  *gubraks*
Pake jilbab –>
kenapa ya ngga bisa dimulai dari sekarang? pdhal pengen banget, cuman
lom siap sama lingkungan.. seharusnya saya jangan peduli sama
lingkungan yaa?! be my self, yah Insya Allah, kalo niatnya dah bener2 kuat.. jangan sampe lah setengah2.
Merubah status –>
ngga usah dibahas..!!!! kalo saya dah cocok sama seseorang dan orang
itu jg cocok sama saya, ngga usah pake nunggu dilamar, saya yg akan
ngelamar… *lhooo*
having children –> mungkin ngga ya tanpa pernikahan?? pengen banget having baby of my own, apalagi kalo kembar…hmmm…
Punya rumah –> wah, kalo proyek yg di Honda tembus, langsung saya bayar DP buat cicilan rumah..
Naek Haji –> hmm.. impian indah, kapan ya…

ugh.. ternyata banyak jg list obsesi saya (dan akan terus bertambah).. kira2 apa ya yg terealisasi duluan…


Jealous
Ngeliat temen yg rencana mau shopping sore ini bareng anak-istrinya… jadi kepengen.. :p
kapan yaaaaah…? hihihii…

-

Rejekinya Nyokap

Saturday, March 18th, 2006

Ngga nyesel dateng ke kantor sabtu ini…
selain emang dah niat pengen beres2 meja kerja yg dah berantakan banget kayak kapal pecah, sekalian jg ngehadirin RAT Koperasi. dan ternyataaa… gw dapet doorprize (seneng banget)… KULKAs? atau TIPI? no.. bukan saudara2.. tapi gw dapet
SEPEDA MINI… hehehe… ini mah emang dah lama diharepin ama nyokap (beliau pengen banget sepeda mini buat ke pasar).. ternyata emang rejekinya beliau.. hihihi..(pdhal baru sekali ini saya menang doorprize, sebelumnya ngga pernah tuh yg namanya menang undian.., semua yang saya mau harus diperoleh dg usaha..hiks)

Congrats ya Mam.. sepeda itu khusus buat mam.. HARUS dipake looooh… :)

-

10 Kualitas Pribadi

Friday, March 17th, 2006

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa
aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang
tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura,
mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang
selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular.
Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Rendah
hati
beda dengan rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang
rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
Ia bisa
membuat orang yang di atasnya merasa nyaman dan membuat orang yang di bawahnya
tidak merasa minder.


Kesetiaan
sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.


Bersikap

positif
selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.


Keceriaan
karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tetapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia dapat mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang
lain.


Bertanggung

jawab
dia akan
melaksanakan kewajibannya
dengan sungguh-sungguh.
Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.


Percaya

diri
memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.


Kebesaran

jiwa
dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi  masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.


Easygoing orang
yang menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar.
Dia tidak suka
mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia
tidak mau pusing dan tertekan dengan masalah-masalah yang berada di luar
kendalinya.

Empati adalah sifat
yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik
tetapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi
konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka
memaksakan pendapat dan
kehendaknya sendiri. Dia
selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.


Mari
kita belajar bersama menjadi Pribadi yang disukai.

saya jahat?

Wednesday, March 15th, 2006

Aduh.. kali ini mulut tangan saya mengeluarkan menuliskan kata2 yg menyakitkan hati orang lagi… ngga tau kenapa yah kadang ngga bisa mengontrolnya.. Tapi apa emang salah kalo saya berbicara terus terang, hmm… yg pasti sih saya ngga mau kecewa lagi untuk kesekian kalinya.. saya ngga mau (lagi) diberi harapan, saya ngga mau lagi menerima kata2 manis untuk kemudian dicampakkan,…

Mungkin terlau frontal, tapi itulah saya.. terserah orang mau sakit hati atau tidak.. (sebenarnya hal ini tidak boleh dan saya sadar) cuman hati yg sudah luka ngga bisa semudah itu diperbaiki, kecuali saya menginginkannya. Sepertinya hati saya sudah tertutup… tapi mungkin bisa terbuka lagi bila saya menginginkannya.. KLISE but it’s real.. saya ngga mau memberi harapan palsu dan ngga mau sebaliknya…

Sakit Hati? itu resiko masing2.. resiko harus ditanggung masing2..
saya merasakan dan sudah seharusnya kalian juga…

Yups, mungkin saya jahat… but setidaknya saya tidak memberikan "mimpi" tapi realita.

PEACE…

*

Siti Nurhaliza

Tuesday, March 14th, 2006

Mendadak dikantor saya, orang2 jadi membicarakan Siti Nurhaliza bahkan menyetel lagunya. gara2nya ada rumor (eh, mungkin bukan rumor lagi, kan dimuat di detik.com, jum’at lalu) kalo sang diva malaysia ini akan diperistri oleh seorang duda beranak 3… Mereka (rekan2 kantor saya yg mayoritas kaum adam) merasa shock dan terkejut akan berita ini… PATAH HATI, itu istilah yg tepat.. pendapat mereka, "..kok mau2nya yah sama duda, dah punya anak 3 pula.."

Ugh..so what gitu looh? itu opini pertama saya menanggapi komentar mereka, "Mungkin aja para lajang-ers ngga berani ngelamar si Siti, makanya diserobot sama duda." saya menambahkan.. lalu ada komentar lagi "Dasar cewe’.. MATRE!!!" , kok? jadi kesana arahnya "Kalo ngga matre ngga bisa hidup," begitu timpal saya.

Kenapa sih setiap orang yang menerima pinangan dari seseorang yang umurnya lebih (baca: jauh) diatas dan punya materi berlebihan selalu diidentikkan dengan matre, sebenarnya ada yg menarik untuk diperbincangkan lebih jauh.. contoh nyata Nabi SAW aja menikah dengan Siti Khadijah, janda kaya.. sengaja digaris-bawahi, kenapa? apakah karena Nabi SAW matre? hmm.. tentunya bukan itu yg menjadi pertimbangan Rasulullah SAW untuk memilih Siti Khadijah menjadi istrinya, pertimbangan beliau yang utama, adalah guna memperluas syiar islam, karena dengan status dan kedudukan Siti Khadijah, semua visi dan misi Nabi SAW menjadi mungkin. (CMIIW)

SO…? masih berpikiran bahwa menerima pinangan dari orang yang "lebih" adalah karena materi semata? hmm.. better think it over again guys.. kalo kalian punya "keberanian" kenapa ngga meminang si Siti?

-

KAU

Saturday, March 11th, 2006

Hari minggu gini, masih ngantor jg… huh keterlaluan ngga sih saya?
kesannya ngejar2 materi banget yah.. * klo disuruh milih lebih baik dirumah nonton film kartun kesukaan saya.. Crayon Sinchan sama Doraemon *
udah sepi (untung ga sendirian dikantor), dan sepertinya warung nasipun jarang yg buka..
but kok jadi teringat lagunya DUA yah..?
Nyanyi dulu aaah… hehehehe…

***

Kau

      


  Artist: Dua

       

      

Lelahku mencari penggantimu… penggantimu…
Tetap kan kembali kepadamu… kepadamu…
Mungkin ini pertanda engkaulah cintaku… cintaku…

Kau…
Tiada yang lain yang pantas untukku
Yang seharusnya ku cinta
Bolehkah lagi kuminta hatimu
Kembali seperti dulu

Bayangmu selalu menggelapkan dihatiku
Hingga ku tak mungkin mengganti yang lain selain diriku
Mungkin ini pertanda seharusnya cintaku… cintaku…

Kau…
Tiada yang lain yang pantas untukku
Yang seharusnya ku cinta
Bolehkah lagi kuminta hatimu
Kembali seperti dulu

Kuingin kau slalu yang jadi milikku ooh…

-

Kangen kamu

Friday, March 10th, 2006

Kangen banget saya sama kamu..
beberapa hari ini seakan bayangmu tenggelam dalam waktu

tapi siapakah kamu?
saya bahkan ngga tau
keberadaan dirimu begitu semu

Tapi kok bisa ya saya kangen kamu …

ah, tapi tanpa saya bilang pun
pasti kamu merasakan hal itu
tapi dimanakah kamu?
apakah kamu nyata
atau..
hanya khayalan semata

ah, sudahlah… yg pasti kamu tau bahwa saya merindukan mu…

Miss U ….
Wish U too

-

Mengingat Kematian

Monday, March 6th, 2006


Suatu
hari, seorang lelaki sedang tiduran di bawah pohon apel. Tiba-tiba
salah satu dari buah apel gugur dan menimpa salah satu bagian badannya.
Laki-laki itu lantas berpikir. Kenapa barang ini jatuh ke bawah? Bagi
orang biasa, jatuh ke bawah adalah hal biasa, sebab yang namanya jatuh,
sudah pasti ke bawah. Tidak perlu pemikiran yang lebih sulit lagi. Tapi
bagi laki-laki berotak cerdas ini menjadi hal yang luar biasa. Dan dari
gerilya pemikiran laki-laki inilah lahir teori gravitasi bumi yang
mashur itu. Dan laki-laki itu bernama Newton, fisikawan Eropa.

Tiba-tiba,
suatu hari saya mengingat laki-laki itu. Sebab ketika saya sedang
santai di bawah pohon mangga, setelah letih bekerja, tiba-tiba salah
satu buah mangga, jatuh dan menimpa saya. Karena otak saya tidak
secerdas otak Newton, kejadian itu juga saya pandang biasa-biasa saja.
Tapi ada satu yang menjadi luar biasa adalah, ketika yang jatuh itu
adalah buah yang masih muda. Bahkan untuk menjadi masak, buah ini perlu
proses alamiah yang lebih lama lagi.

Kenapa mangga muda yang
jatuh? Bukankah ada mangga yang lebih layak jatuh terlebih dahulu?
Pandangan umum manusia, suatu saat akan sangat berbeda dengan kekuasaan
Sang Maha pencipta. Kita mengatakan, benda ini layaknya begini dan
begitu. Tapi, Allah SWT mempunyai hak prerogatif untuk berkata dan
bertindak lain. Dalam bahasa orang-orang yang beriman: Apa yang terjadi
di dunia ini, sudah barang tentu ada dalam lingkup qada dan qadar-Nya.
Dan jatuhnya mangga muda itu, tak hanya sekedar terkena tiupan angin
yang berhembus belaka, tapi di balik itu semua, Allah SWT ikut berperan
di dalamnya.

Alhamdulillah, dari jatuhnya mangga itu, saya
diingatkan untuk yang kesekian kalinya oleh Allah, untuk mengingat
kembali sesuatu yang sangat penting, yaitu kematian. Ada sebuah kisah,
bahwa seorang saleh zaman dulu, pernah meletakkan batu nisan di depan
pintu rumahnya. Tujuannya tak ada lain hanyalah agar setiap saat ia
bisa mengingat kematian. Itu tentu wajar -wajar saja, sebab datangnya
ajal adalah sebuah kepastian, dan tak ada satu mahlukpun yang
mengetahuinya.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
(kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah maha
mengtahui apa yang kamu kerjakan. (QS 63:11)

Dan dalam perjalanan
hidup saya, saya tidak harus meletakkan batu nisan di depan pintu rumah
saya. Kalau berpikir ke belakang sana, sudah sangat sering sebenarnya
saya diingatkan tentang hal tersebut. Hal-hal yang seharusnya saya
lebih waspada dan cepat-cepat berbuat amal kebaikan. Sebelum kematian
menjemput saya.

Maka, ketika saya kejatuhan mangga
muda, saya merenung. Sudah sering sekali Allah mengingatkan saya dengan
hal-hal yang berhubungan dengan kematian, tapi apakah saya sendiri
sudah ingat dengan kematian yang akan menimpa saya? Dan sudah cukupkah
bekal saya jika tiba-tiba Izrail menemui saya? Sudahkah saya termasuk
golongan orang-orang cerdas menurut prespektif Rasulullah? Karena
menurut Rasulullah orang-orang yang cerdas adalah orang yang selalu
mengingat kematian.


Saya meraba diri saya, dengan mengingat
perbuatan selama hidup saya ini. Saya mencoba bercermin dengan para
salafusshaleh, sudah sejauh manakah jejak mereka yang saya laksanakan.
Dan sudah sejauh mana kelayakan saya jika menghadap-Nya.


Otak
saya terus bergerilya. Walaupun otak saya tidak secerdas seperti para
penerima beasiswa, apalagi deretan ilmuwan fisika dan para penerima
hadiah Nobel, seperti Newton misalnya, tapi mudah-muahan Allah
memasukan saya kepada deretan orang-orang cerdas menurut kacamata
khatamul ambiya, Muhammad SAW. Yang selalu mengingat akan datangnya
kematian. Itulah yang tak henti-hentinya saya mohonkan pada-Nya

***–

era muslim
Publikasi: 07/09/2005 10:28 WIB

Menyeimbangkan Keinginan

Monday, March 6th, 2006

eramuslim

Saya baru saja menyadari betapa saya banyak merugikan diri saya sendiri, setelah saya membaca sebuah buku. Judulnya “Don’t Sweat the Small Stuff with Your Family”,
karya Richard Carlson. Sebuah buku yang, menurut saya, sederhana.
Isinya sebenarnya adalah kisah-kisah keseharian si penulis, yang sangat
baik dan cerdas dalam mengambil hikmah dalam setiap kejadian kecil
dalam kehidupannya. Ditulis dengan bahasa ringan, mudah dimengerti, dan
‘akrab’. Mengapa saya katakan akrab? Sebab sepertinya ketika
membacanya, kita akan tertegur keras, bahwa setiap kejadian tersebut
pernah kita alami sendiri.

Contohnya adalah salah satu chapter dalam buku itu yang kira-kira berjudul “Let Go Off Your Expectations”. Satu chapter
yang hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman itu menceritakan
tentang bagaimana si penulis seringkali memiliki
pengharapan-pengharapan tertentu terhadap masing-masing anggota
keluarganya. Seperti ketika suatu pagi yang cerah, ia dengan sangat
antusias mengajak istri dan anak-anaknya untuk berlibur dengan pergi ke
kolam renang. Tentu saja, ia mengharapkan reaksi atau respon yng sama
antusiasnya dengan apa yang ia tunjukkan. Namun pagi itu, ia tidak
mendapatkannya. Komentar yang dilontarkan oleh istrinya lebih kepada,
“Ya, terserah, deh.” Dan itu sama sekali bukan sebuah kalimat yang
menunjukkan sikap antusias. Tentu saja si penulis merasa ‘terganggu’
dengan sikap keluarganya, dan ia pun ‘terjebak’. Ia berkata, “Ada apa
sih dengan keluarga ini?” dengan nada tinggi. Mendengar kalimat
tersebut, istrinya pun tersenyum lebar dan berdiri di hadapannya sambil
mengatakan, “Nah? Bagaimana dengan perkataanmu tentang pengharapan
terhadap orang lain?”

Kejadian tersebut memang sepertinya sangat
sepele. Namun, bagi orang yang tidak dapat mengontrol emosi akibat
terjebak oleh situasi seperti di atas, tentu akan berakibat buruk bagi
hubungan antar anggota keluarga. Padahal, reaksi seperti itu tak perlu
dilakukan, kalau saja kita bisa sedikit bersikap tenang dan santai.
Berusaha untuk menerima bahwa tidak setiap orang, termasuk anggota
keluarga kita sendiri, dapat memiliki sifat yang sama seperti diri
kita. Tidak setiap orang memiliki antusiasme yang sama ketika
menghadapi berbagai situasi. Yang jelas, setiap orang adalah bukan diri
kita. Jadi, memiliki pengharapan yang berlebihan terhadap orang lain
tentu hanya akan membuat kita stres.

Dalam keluarga terutama,
dimana kita menemui orang-orang yang sangat kita cintai itu nyaris
setiap waktu dalam hidup kita, kita harus berusaha banyak bertoleransi
bila ingin mencapai hubungan keluarga yang baik dan menyenangkan.
Menerima kondisi perbedaan tersebut bukanlah berarti kita ‘menurunkan
standar’, melainkan mengurangi tuntutan bahwa ‘setiap orang harus
memiliki sikap, reaksi, dan respon yang sama’ dengan diri kita. Dengan
kata lain, diri kita tetaplah diri kita, yang memiliki berbagai
keinginan, baik untuk diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Bagaimana menyeimbangkannya dengan kemampuan dan karakteristik
orang-orang tercinta yang hidup bersama kita, itu satu hal yang perlu
terus diupayakan.

Saya tersenyum dan mulai mencerna ulang segala apa yang saya serap dari chapter
itu. Saya mungkin memiliki sifat yang tak jauh beda dari si penulis
buku tersebut, yaitu hampir selalu bersikap dan mengatakan sesuatu
dengan antusias kepada orang lain. Ya, saya adalah seseorang yang
‘ber-emosi’, begitu apa yang teman-teman saya katakan. Hampir tak
pernah saya tak melibatkan perasaan dalam setiap perkataan ataupun
tindakan saya. Maka, bila ada orang lain yang tidak menanggapinya
seantusias diri saya, saya akan berpikir bahwa orang tersebut sangat
tidak pengertian dan tidak peduli dengan orang lain. Setidaknya, orang
tersebut tidak mengerti bahwa sesuatu itu sangat penting bagi diri saya.

Hal
itu cukup sering terjadi dalam kehidupan keseharian saya. Dan
akhir-akhir ini, saya menjadi kurang bisa bertoleransi terhadap hal
itu. Saya menginginkan apapun cerita yang keluar dari mulut saya
ditanggapi sama antusiasnya dengan bagaimana saya menceritakannya.
Setiap perilaku sedih, marah, kecewa, dan bahagia saya, saya pun ingin
mendapatkan respon serupa dari keluarga saya, dalam arti mereka
memiliki perasaan yang sama dengan saya.

Di chapter lain pada buku tersebut, ada sebuah yang juga membuat saya tertarik. Judulnya kira-kira “Let Him/Her Know”.
Isinya tentang bagaimana kita seharusnya menyampaikan isi hati dan
keinginan kita kepada orang-orang tercinta di rumah. Mungkin saja,
banyak hal yang terjadi di luar dari apa yang kita harapkan, adalah
karena kita sendiri tidak pernah menyampaikannya kepada mereka.
Kemudian, saya pun merenungkan kembali, apakah kondisi tersebut pernah
saya alami?

Hasilnya? Sama seperti si penulis, rupanya saya telah
berkali-kali terjebak dalam emosi saya sendiri. Memiliki prasangka dan
dugaan buruk yang hanya akan membuat hati saya gundah, dan merasa bahwa
tidak seorang pun dapat memahami keinginan saya. Sungguh malang. Saya
benar-benar merasa rugi kini, setelah menyadari bahwa bersikap demikian
tidaklah membawa manfaat apapun terhadap diri saya. Bahkan, mungkin
saja perasaan gundah tersebut membuat sikap saya menjadi berbeda kepada
orang-orang tercinta di rumah. Bisa jadi, kekecewaan saya tersebut
membuahkan perilaku saya yang berbeda kepada mereka, dan mungkin saja
telah menyakiti perasaan keluarga saya. Dan kesudahannya, setelah emosi
yang berlebihan tersebut lewat, saya selalu menyesali sikap saya itu.
Bayangkan saja, betapa saya mungkin telah menyakiti dan membuat
keluarga saya sedih!

Kejadian seperti itu, bukan tak mungkin
telah kita alami berkali-kali. Dan selama berkali-kali itu, entah ke
mana perginya akal sehat dan kejernihan pikiran saya, sehingga saya
amat sulit menggali hikmah dan tindakan tepat apa yang harus saya
lakukan untuk mengatasi situasi macam itu. Dan selama ini, saya selalu
tenggelam dalam perasaan dan pikiran saya sendiri, yang mungkin
cenderung negatif, hingga menyebabkan kegundahan dalam hati saya
berlangsung lama.

Suatu malam, beberapa hari setelah saya membaca
buku itu, saya melakukannya. Saya menahan emosi ini kuat-kuat,
melebarkan senyum hingga dapat menekan nada suara saya serendah
mungkin, menatap lekat-lekat mata orang yang saya sayangi di rumah, dan
mulai menyampaikan satu per satu keinginan dan harapan saya
terhadapnya. Dan ternyata berhasil! Ia mendengarkan dengan serius,
tampak memikirkan bahwa yang saya sampaikan itu memang benar-benar
penting bagi diri saya, dan sesudah itu ia mengatakan bahwa ia pun
sebenarnya telah memikirkan hal yang sama.

Hati saya terasa
lapang sekali setelahnya. Dalam hati, saya mulai mendaftar ulang
‘keinginan-keinginan’ yang selama ini belum terkomunikasikan dengan
baik, untuk saya pikirkan kembali, dan mungkin saja akan saya sampaikan
di suatu kesempatan lain. Dan malam itu, saya tertidur dengan sangat
nyenyak.

Alhamdulillah…saya telah menemukan tulisan sederhana
dalam buku tersebut. Yang akhirnya memberikan pukulan keras bagi saya,
bahwa tidak semua hal yang terjadi perlu dimasukkan dalam ‘daftar
tuntutan besar yang harus dipenuhi’. Mungkin ketika kita menanggapinya
dengan ringan, hal tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang dipendam
lama hingga menjadi ‘bom waktu’ yang akan meledak kapan saja. Ketika
kita berusaha keras untuk menyingkirkan ego, membuka hati dan pikiran
untuk mengkomunikasikannya dengan cara yang baik apapun itu keinginan
dan harapan yang kita miliki, tentu akan membawa hasil yang lebih baik,
dibandingkan hanya memendamnya atau langsung bereaksi keras. Dan jangan
lupa, bagaimanapun, jangan pernah berharap bahwa apa yang kita inginkan
akan seratus persen diterima dan ditanggapi seperti yang kita harapkan.
Dan bila itu terjadi, bukan berarti mereka tidak mengerti atau tidak
menyayangi diri kita.***