Mengingat Kematian
Suatu
hari, seorang lelaki sedang tiduran di bawah pohon apel. Tiba-tiba
salah satu dari buah apel gugur dan menimpa salah satu bagian badannya.
Laki-laki itu lantas berpikir. Kenapa barang ini jatuh ke bawah? Bagi
orang biasa, jatuh ke bawah adalah hal biasa, sebab yang namanya jatuh,
sudah pasti ke bawah. Tidak perlu pemikiran yang lebih sulit lagi. Tapi
bagi laki-laki berotak cerdas ini menjadi hal yang luar biasa. Dan dari
gerilya pemikiran laki-laki inilah lahir teori gravitasi bumi yang
mashur itu. Dan laki-laki itu bernama Newton, fisikawan Eropa.
Tiba-tiba,
suatu hari saya mengingat laki-laki itu. Sebab ketika saya sedang
santai di bawah pohon mangga, setelah letih bekerja, tiba-tiba salah
satu buah mangga, jatuh dan menimpa saya. Karena otak saya tidak
secerdas otak Newton, kejadian itu juga saya pandang biasa-biasa saja.
Tapi ada satu yang menjadi luar biasa adalah, ketika yang jatuh itu
adalah buah yang masih muda. Bahkan untuk menjadi masak, buah ini perlu
proses alamiah yang lebih lama lagi.
Kenapa mangga muda yang
jatuh? Bukankah ada mangga yang lebih layak jatuh terlebih dahulu?
Pandangan umum manusia, suatu saat akan sangat berbeda dengan kekuasaan
Sang Maha pencipta. Kita mengatakan, benda ini layaknya begini dan
begitu. Tapi, Allah SWT mempunyai hak prerogatif untuk berkata dan
bertindak lain. Dalam bahasa orang-orang yang beriman: Apa yang terjadi
di dunia ini, sudah barang tentu ada dalam lingkup qada dan qadar-Nya.
Dan jatuhnya mangga muda itu, tak hanya sekedar terkena tiupan angin
yang berhembus belaka, tapi di balik itu semua, Allah SWT ikut berperan
di dalamnya.
Alhamdulillah, dari jatuhnya mangga itu, saya
diingatkan untuk yang kesekian kalinya oleh Allah, untuk mengingat
kembali sesuatu yang sangat penting, yaitu kematian. Ada sebuah kisah,
bahwa seorang saleh zaman dulu, pernah meletakkan batu nisan di depan
pintu rumahnya. Tujuannya tak ada lain hanyalah agar setiap saat ia
bisa mengingat kematian. Itu tentu wajar -wajar saja, sebab datangnya
ajal adalah sebuah kepastian, dan tak ada satu mahlukpun yang
mengetahuinya.
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan
(kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah maha
mengtahui apa yang kamu kerjakan. (QS 63:11)
Dan dalam perjalanan
hidup saya, saya tidak harus meletakkan batu nisan di depan pintu rumah
saya. Kalau berpikir ke belakang sana, sudah sangat sering sebenarnya
saya diingatkan tentang hal tersebut. Hal-hal yang seharusnya saya
lebih waspada dan cepat-cepat berbuat amal kebaikan. Sebelum kematian
menjemput saya.
Maka, ketika saya kejatuhan mangga
muda, saya merenung. Sudah sering sekali Allah mengingatkan saya dengan
hal-hal yang berhubungan dengan kematian, tapi apakah saya sendiri
sudah ingat dengan kematian yang akan menimpa saya? Dan sudah cukupkah
bekal saya jika tiba-tiba Izrail menemui saya? Sudahkah saya termasuk
golongan orang-orang cerdas menurut prespektif Rasulullah? Karena
menurut Rasulullah orang-orang yang cerdas adalah orang yang selalu
mengingat kematian.
Saya meraba diri saya, dengan mengingat
perbuatan selama hidup saya ini. Saya mencoba bercermin dengan para
salafusshaleh, sudah sejauh manakah jejak mereka yang saya laksanakan.
Dan sudah sejauh mana kelayakan saya jika menghadap-Nya.
Otak
saya terus bergerilya. Walaupun otak saya tidak secerdas seperti para
penerima beasiswa, apalagi deretan ilmuwan fisika dan para penerima
hadiah Nobel, seperti Newton misalnya, tapi mudah-muahan Allah
memasukan saya kepada deretan orang-orang cerdas menurut kacamata
khatamul ambiya, Muhammad SAW. Yang selalu mengingat akan datangnya
kematian. Itulah yang tak henti-hentinya saya mohonkan pada-Nya
***–
era muslim
Publikasi: 07/09/2005 10:28 WIB