Archive for July, 2006

hapus aku

Thursday, July 27th, 2006

lagi suka sama lagu nidji yang hapus aku... gw banget gitu loh.. hihihi…
terutama pas bait: "yakinkan aku Tuhan…dia bukan milikku..biarkan waktu..hapus…"

Hapus Aku -
Nidji


Kutuliskan
kesedihan
Semua tak bisa kau ungkapkan
Dan kita kan bicara dengan
hatiku

Buang semua
puisi
Antara kita berdua
Kau bunuh dia sesuatu
Yang kusebut itu
cinta

Reff:
Yakinkan
aku Tuhan
Dia bukan milikku
Biarkan waktu waktu
Hapus
aku…

Sadarkan aku
Tuhan
Dia bukan milikku
Biarkan waktu waktu
Hapus aku…

saya mencoba meyakinkan diri bahwa dia bukan untukku..berusaha menepis bayang, menghiraukan angan — tapi tetap ga bisa………karena saya tau pasti bakal gimana ini berakhir… not a happy ending story..

S-ku sayang… bantulah aku melupakan mu..
yakinkan diriku bahwa kau bukan untukku..
sadarkan aku bahwa kau bukan milikku..

happy b’day Pap’s

Friday, July 21st, 2006

   

   

         

 

Met Ultah ya Paps’ ku tersayang
semoga tambah sukses dalam mengisi hari
bertambah ketakwaan terhadap Illahi

selamat menikmati hari pensiun  **duh, jadi pengen pensiun juga hihihi**
doain
moga anak2nya bisa "menyenangkan hati - mendamaikan jiwa" , bisa sukses
dan yang penting doain moga cepet ketemu soulmate-nya… ;)) — ** intinya sih biar cepet married lah**

Love you a lot Pap’s.
happy 56′ belated b’day

Yang sempurna yang terpilih

Thursday, July 20th, 2006

Yang
Sempurna Yang Terpilih

Masih ingat jaman dulu ketika duduk di bangku
Taman Kanak-Kanak? Setiap menjelang pulang para guru berdiri di depan dengan
kalimat yang khas, Siapa yang duduknya paling rapih pulang duluan, seketika
seluruh kelas hening tak bersuara, duduk dengan sikap paling sempurna, mulut
tertutup rapat dengan tangan kanan dan kiri saling menindih di atas meja.
Berdebar-debar menunggu siapa yang dinilai paling sempurna sikapnya dan
disebutkan namanya untuk dibolehkan keluar kelas paling pertama. Ketika nama
saya tak disebut, melainkan nama yang lain, saya mencoba lebih menyempurnakan
sikap. Mungkin saja posisi tubuh saya belum tegap, atau tangannya tidak terlipat
sempurna.

Tak hanya saya, teman lain yang tak dipanggil hingga panggilan
kesekian pun semakin gelisah sambil terus memperhatikan letak duduk, posisi
tubuh, hingga mata yang ditahan-tahan tak berkedip untuk menunjukkan sikap
sempurna. Barulah senyum mengembang ketika nama disebut sambil melirik ke arah
bangku kelas, karena ternyata masih ada beberapa teman tertinggal di belakang.
Bangga sedikit boleh, tapi belum puas karena tidak menjadi yang paling sempurna.

Keesokan harinya, ketika masuk kelas sudah berpikir untuk bersiap-siap
jika menjelang pulang nanti harus bersikap jauh lebih baik, jauh lebih sempurna
dari kemarin. Alhasil, meski tidak juga menjadi yang pertama, tetapi lebih baik
dari kemarin. Terus hingga hari berikutnya pun sikap sempurnanya diperbaiki lagi
hingga pada suatu hari mendapat kesempatan untuk keluar kelas urutan pertama.
Bangga, pasti. Senang, jelas. Karena dari hari ke hari berupaya untuk menjadi
yang paling sempurna tercapai di hari itu.

Di lain masa dan di lain
tempat, hukum kesempurnaan itu terus berlaku. Teringat saat mengaji di kampung,
Pak Ustadz akan mengizinkan para santri pulang ke rumah setelah menghapal salah
satu Surah pendek yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya. Siapa yang sudah
hapal dipersilahkan maju untuk diuji. Lancar dan bagus bacaannya, boleh pulang.
Jika terbata-bata, silahkan duduk dan pelajari lagi sambil menunggu giliran
berikutnya. Bagi yang tidak hapal, harap pasrah pulang paling akhir plus dengan
sedikit omelan Pak Ustadz.

Setiap kali seorang santri tengah diuji
hapalannya, santri yang lain komat-kamit menghapal, sementara lainnya
memperhatikan bacaan santri yang sedang diuji sambil berdebar-debar menunggu
giliran. Santri yang sudah teruji, tak jarang menjadi contoh dan dipuji Pak
Ustadz. Bangga, tentu saja lantaran hari itu ia menjadi yang pertama mampu
melewati ujian. Seorang teman satu pengajian pernah mengisahkan kegembiraannya
setelah terpilih mewakili pengajian kami untuk lomba hifdzil quran (hapalan
quran). Meski pun tidak menang dalam perlombaan itu, terpilh untuk mewakili
pengajian kami pun sudah prestasi luar biasa baginya.

Hukum kesempurnaan
ini akan berlaku kapan pun dan di mana pun. Kesempurnaan dimaksud adalah bukan
titik puncak dari apa yang bisa dilakukan seseorang. Melainkan sebuah upaya
maksimal yang mampu diusahakan, ianya diperoleh melalui proses panjang yang
melelahkan. Kesempurnaan bisa dicapai dengan akal pikiran, kerja keras yang tak
kenal menyerah. Seorang siswa terpilih menjadi siswa teladan bukan hanya karena
nilainya tertinggi, melainkan juga dinilai dari aspek lainnya seperti sikapnya
terhadap guru dan teman, kepemimpinannya di kelas, kedisiplinan, kerapihan,
kebersihan, dan kecakapan lainnya yang di atas rata-rata teman satu sekolahnya.

Seorang karyawan di sebuah perusahaan akan mendapat promosi bukan saja
karena hasil kerjanya yang memuaskan selama satu tahun. Para atasannya juga
melihat kedisplinan serta hubungan baiknya dengan sesama karyawan sehingga mampu
menciptakan semangat kerja sama yang bagus. Sama halnya dengan orang tua yang
tak segan-segan memberi hadiah kepada anaknya yang rajin, cerdas dan taat
menjalankan perintahnya.

Karenanya, berusahalah terus untuk menjadi
lebih baik dan lebih sempurna. Kalau kita bisa menapak anak tangga ke seratus,
kenapa harus berhenti di anak tangga ke tujuh puluh? Kalau sanggup mendaki Mount
Everest, kenapa hanya bukit kecil? Kalau sanggup menyelesaikan dua-tiga
pekerjaan dalam sehari, kenapa hanya satu? Kalau sanggup mendapat nilai A dalam
ujian, kenapa hanya berusaha mendapatkan B?

Allah itu sempurna, maka
dekatilah Dia dengan cara yang sempurna. Sebagai hamba kita harus beribadah dan
bekerja secara sempurna. Perbaikilah semua yang masih bisa diperbaiki,
sempurnakan segala yang seharusnya bisa lebih sempurna. Bukankah orang-orang
yang akan menghuni surga Allah adalah orang-orang terpilih? Jadilah sempurna,
agar kita menjadi orang-orang terpilih. Insya Allah






(bayu gawtama/milist: livingschool_community@yahoogroups.com)

ada apa dengan waktu?

Monday, July 17th, 2006

wah… dah lama juga ga corat-coret disini, sebenarnya sih baru beberapa hari yg lalu saya posting tulisan, tapi sepertinya bukan tulisan yg benar2 saya tulis, tapi tulisan yg saya ambil dari (entah) milis atau majalah online, atau artikel… ga tau kenapa akhir2 ini saya seperti kehabisan waktu, dan waktu seperti tidak bersahabat dengan saya. Ada apa dengan waktu?

Pun ketika temen lama saya menelpon kmrn, sebenarnya berita gembira yg dia sampaikan, yupps… akhirnya dia menikah juga —- minta alamat rumah saya krn dia pengen ngirim undangan…. saya cuman berjanji akan ngasih detailnya via sms… tapi sampai saat ini saya pun belum memenuhi janji yg saya buat… gara2 nomor saya diblokir —- telat bayar :(  pdhal teknologi sudah memungkinkan untuk apa aja, tapi tetap aja saya blom sempat buat melunasi tagihan pembayaran… duuh, ada apa dengan waktu?

Apakah saya yg malas, atau saya terlalu terjebak dengan rutinitas? kayaknya sang waktu yg perlu disalahkan… gara2 berlalu terlalu cepat…
hmmm…. benarkah demikian?

"semoga saya bukan termasuk orang yg merugi" 

Married ?? — Yes. You should married as soon as possible

Monday, July 17th, 2006

—- Yang udah punya pasangan, let’s think about
it (tapi jangan karena e-mail ini jadi asal2an ya). Bagi yang belum punya, kita
semua doain supaya cepat menemukan pujaan hatinya —
(dari milis sebelah)
  

 
Dear friends,
 
Saat
membaca email teman kita tentang married, saya tersentak dan tersentuh. 
Kenapa?  Karena sampai email ini saya buat, saya juga belum married.  Tapi…
pertimbangkan kalkulasi berikut yang membuat kita perlu menghitung ulang dan
menyusun ulang rencana pernikahan kita.
 
Berdasarkan masukan dan kalkulasi realistik dan logis
itu pulalah, saya memutuskan untuk segera memilih, mempersiapkan dan
menikah.
 
Pernah
liat temen kita kehilangan orang tuanya karena beliau sudah lanjut usia padahal
kita masih terlalu muda dan belum siap di tinggal mati orang tua?  Well..
sebenernya ini tidak perlu terjadi.
 
Tuhan
memang punya rahasia yang tidak diketahui oleh mahluk hidup manapun tentang
waktu kematian kita dan cara kita mati.
 
Tapi…
Tuhan sudah membuat garis rata-rata usia manusia di suatu wilayah dan itu bisa
di buat angka statistiknya.
 
Sekarang,
ijinkan saya memaparkan masukan yang saya terima dari seorang bijak di masa lalu
yang menasehati saya untuk segera menikah.
 
Dia
bilang,
 
Berapa Umurmu
sekarang?
Saya
bilang, 30 tahun.
 
Menurutmu, kapan kamu akan
menikah?
Mungkin
saat usiaku 35 tahun karena baru pada saat itulah saya mungkin siap secara
finansial dan segalanya.
 
Apa kamu sudah mempertimbangkan segala hal yang akan
terjadi di masa yang akan datang kalau kamu baru menikah di usia 35
tahun?
Saya diam
sejenak dan dengan jujur saya bilang.  Belum.
 
Lalu dia
melanjutkan
 
Kamu sekarang pegawai di sebuah lembaga yang cukup mapan
dan bonafit.  Kapan kamu pensiun.  Usia 55 tahun,
kan?
Saya
bilang, YA.
 
Nah… sekarang, mari kita
berhitung.
Kamu nikah umur 35. Berarti kamu punya waktu 20 tahun
nabung dan sebagainya sebelum kamu pensiun.  Katakanlah kamu langsung punya anak
setelah 1 tahun nikah, dan saat itu usiamu 36 tahun.  Berarti saat kamu pensiun
di usia 55 tahun, anakmu baru berusia 19 tahun.  Baru usia anak SMA yang baru
mau masuk kuliah dan butuh biaya besar. 
 
Apa kamu yakin selama masa kerjamu kamu punya tabungan
yang cukup untuk anak, istri dan
keluargamu?
 
Katakan 3 tahun setelah anak pertamamu lahir, anak
keduamu menyusul hadir di tengah2 keluarga.  Saat anak keduamu lahir, kamu sudah
berusia 39 tahun. Saat kamu pensiun, anak kedua-mu baru berusia 16 tahun. 
Bahkan sweet seventheen juga belum…!
 
Saya
termenung dan tersentak.  Apa yang akan terjadi dengan anak-anakku kalau saya
sudah pensiun disaat mereka justru sedang butuh banyak sekali uang untuk
mengukir masa depannya?
 
Dalam
keadaan masih bingung, saya bilang : kalau gitu… saya harus ambil kerja
sampingan untuk menutupi kekurangan yang mungkin timbul.  Saya akan jadi pegawai
kantoran sambil wirausaha.
 
Tapi dia
terus bilang,
 
Apa kamu yakin itu keputusan yang baik?  Mengerjakan 2
pekerjaan besar di waktu yang bersamaan hasilnya akan sama saja. Tidak ada
artinya dan tidak banyak membantu.
 
Dia
benar.  Tidak semua orang punya jiwa bisnis yang bagus.  Teman-2 saya banyak
yang bangkrut dan bahkan jatuh miskin akibat salah kalkulasi.

 
Dia lalu
bertanya lagi…
 
Jadi… bagaimana? Masih juga akan menunda-nunda
pernikahanmu?
 
Bukankah akan jauh lebih baik mempercepat dan
menyegerakan pernikahanmu dan menggabungkan kekuatan dan kemampuan kedua belah
pihak, kamu dan pasanganmu, untuk mengejar segala impian?
 
Jangan takut akan masa depan karena itu rahasia
Tuhan.
 
Kebahagiaan sejati tidak bisa diukur dengan harta, tahta
dan kejayaan.  Kebahagiaan sejati baru akan bisa kita rasakan kalau kita sudah
bisa menengok masa lalu tanpa penyesalan, menjalani hari ini dengan penuh
percaya diri, dan mampu menatap hari esok tanpa rasa takut.
 
Dia tidak
hanya berhenti sampai disitu, tapi dia mengingatkan saya untuk sebuah situasi
yang sangat tidak diharapkan oleh siapapun.
 
Menurutmu, kapan kamu akan meninggal?  Rata-2 orang
jaman sekarang meninggal di usia 75 tahun.  Berarti hanya 45 tahun lagi dari
sekarang…! Coba hitung, berapa usia anak-2mu saat itu?
 
Saya
terkejut dan membenarkan hal ini.  Rata-2 orang Indonesia jaman sekarang hanya
sampai usia sekitar 75 tahun.  Mungkin karena pola kehidupannya yang sudah
bergeser, atau Tuhan memang inginnya begitu.
 
Kalau anakku lahir di usiaku yang ke 31 tahun, maka
untuk mencapai usia 75 tahun aku hanya punya waktu 44 tahun untuk mengurus,
mendampingi dan melihat dia tumbuh.  Usia 44 tahun sudah cukup matang dan
dewasa.  Mungkin malah aku sudah punya cucu saat itu.  Aku menghela napas lega. 
Tapi seakan dia mampu membaca pikiranku dan bertanya :
 
Apa kamu yakin kamu akan berumur sepanjang itu? Sampai
75 tahun?  Sudahkah kamu melakukan general check up dengan kesehatanmu? Yakinkah
kamu kecelakaan bisa terjadi kapan saja sesuai kehendak Tuhan?
 
Pertanyaannya sederhana, singkat, padat dan …
membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
 
 

Mereka yang dicari malaikat

Friday, July 7th, 2006

Setiap hari ada beberapa malaikat yang berkeliling menyusuri jalan-jalan
dibumi. Mata mereka awas dan pikiran mereka terkonsentrasi mencari orang-orang
yang berdzikir.

Ada sebuah kisah anekdot sufi yang cukup masyhur. Pelaku kisah ini tak lain adalah Nasrudin. Laki-laki yang
terkenal suka bertingkah anaeh namun memiliki hati yang ikhlas. Suatu ketika
berniat pergi ke pasar Baghdad. Saat tiba disana dan melihat bagaimana ramainya
orang berseliweran, timbulah rasa cemas dihatinya. “ demikian ramai orang
disana, bagaimana nanti kalau aku hlang?” ujarnya kepada temannya.

Teman Nasrudin tersentak mendengar keluhan itu dan berpikir ada benarnya
juga kecemasan itu. “aku ada akal,” ujar teman Nasrudin setelah berpikir ada
lama. “agar kau tak hilang, ikatkan saja balon ke kakimu, gampangkan,” usulnya senang

Menurut teman Nasrudin tersebut , jika nanti Nasrudin benar-benar hilang
dipasar, tinggal cari saja siapa yang dikakinya ada balon maka itulah Nasrudin.
Saran itu diterima baik oleh Nasrudin. Ia pun lalu mengambil balon dan
mengikatnya dipergelangan kakinya. Dengan percaya diri Nasrudin pun memasuki
pasar Baghdad.

Seelah berkeliling agak lama, Nasrudin merasa lelah dan tertidur. Ketika
terbangun, Nasrudin kaget luar biasa karena dikakinya sudah tak ada lagi balon yang terikat.

“aku hilang, aku hilang…..” katanya galau. Tapi kepanikan itu hanya
berlangsung beberapa saat saja. Hari Nasrudin kembali lega setelah melihat
sesosok laki-laki tengah tertidur pulas dengan balon yang terikat.

Aku hilang…aku hilang..”, katanya galau. Tapi kepanikan itu hanya
berlangsung beberapa saat saja. Hati Nasrudin kembali lega setelah melihat
sesosok laki-laki tengah tertidur pulas dengan balon yang terikat dikakinya.
“Uh, hampir saja aku hilang,” ujarnya sambil menarik napas lega.

Namun baru saja kelegaan melanda hatinya Nasrudin kembali tersentak. “kalau
orang yang tidur itu adalah Nasrudin, masya Allah….lalu siapa saya?”

Mengenal Allah

Banyak sekali hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini. Sekalipun terdengar
bodoh, tapi ketakutan Nasrudin sebenarnya adalah ketakutan hakiki manusia. Saat
pertama kali mata manusia terbuka ketika dilahirkan, manusia sebenarnya sudah
memulai perjalanannya ke dunia yang tak ada bedanya dengan perjalanan menuju
pasar yang riuh dan padat di kota Baghdad. Siapa bias menjamin dipasar yang tak
dikenali itu dengan segala hal yang ada didalamnya yang entah menyenangkan atau
mengancam, seseorang tak akan hilang, terjebak dan ujungnya meraih penderitaan?

Karenanya kita butuh pegangan dan pedoman, dan nasrudin memilih mengikatkan
balon ke kakinya sebagai pedoman baginya. Dengan pedoman itu, nasrudin
mengarungi pasar dengan percaya diri. Tapi kemudian kita ketahui tak selamanya
pedoman itu bisa menyelesaikan masalah. Malah pedoman itulah yang menghadirkan
masalah baru seperti yang dialami nasrudin. Ia kebingungan setelah menemukan
orang dengan balon terikat dikakinya yang kemudian disimpulkan sebagai dirinya,
sementara ia tak tahu lagi siapa dirinya.

Man arofa nafsahu arofa robbahu, siapa yang mengenal dirinya maka ia akan
mengenal Tuhannya. Itulah hikmah terbesar yang dapat kita petik dari kisah ini.
Kesungguhan menghayati kemanusianlah yang membawa seseorang mengenal Tuhan.
Kesadaran bahwa kita adalah mahluk yang fana dan terbatas , tak kekal dan lemah
serta perlu pada Allah SWT sebagai zat yang maha besar dan maha kuasa yang
membuat seseorang menyadari kekuasaan-Nya dan dengan rela mengabdi pada-Nya.
Itulah pedoman tertinggi manusia yang
membuatnya tak akan hilang dan menderita dunia.

Lalu bagaimanakah meneguhkan hal itu di dada kita? Hal terbaik adalah
dengan berdzikir. Dengan berdzikir, kita menghadirkan Allah secara senantiasa
dalam hati kita. Dengan menghadirkannya terus menerus, kita juga akan semakin
mengenal kehambaan kita. Karenanya wajar jika Nabi SAW menyebut perumpaan orang
yang berdzikir dan yang tidak berdzikir sebagai orang yang hidup dan orang
mati. Hidup karena ada kesadaran dan pedoman yang jelas bagi perjalannya
didunia yang membuatnya selamat. Sedangkan yang tidak memiliki pedoman dan
kesadaran itu tak ubahnya seperti orang mati yang tak kuasa melakukan
perjalanan didunia dengan selamat.

Orang2 yang memiliki pedoman dengan berzikir inilah yang, sebagaimana
dikabarkan Iman Bukhari dalam shahihnya, yang dicari-cari malaikat. Mereka
jugalah yang kemudian menjadi objek pembicaraan antara Allah dan para malaikat
pencari itu sebagaimana dikisahkan oleh Nabi SAW.

“apa yang dilakukan hamba-hamba-KU ini,” kata Allah SWT kepada malaikat
itu.

“mereka bertasbih, bertakbir , bertahmid dan memberi pujian kepada-Mu,”
jawab malaikat.

“apakah mereka melihat-KU?”

“Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-MU.”

“bagaimana jika mereka melihat-KU?”

“seandainya mereka melihat-MU, niscaya mereka akan lebih sungguh2 beribadah
kepada-MU, lebih serius memuji-MU dan lebih banyak bertasbih kepada-MU.”

Dan Allah pun lalu berkata,” Aku persaksikan pada kalian bahwa aku telah
memberikan ampunan kepada mereka”.

Waallahu a’lamu bishshawab.